Masa Depan yang Tak Kita Inginkan

Dampak perubahan iklim terus mengancam dunia seiring makin abainya negara-negara adidaya untuk beraksi atasi perubahan iklim. Amerika Serikat terus menjadi simbol kemunduran aksi perubahan iklim. Pada saat yang sama, negara-negara lain terancam gagal mencapai target aksi iklim mereka.

Kota-kota dunia melalui inisiatif C40 Cities mengambil alih inisiatif dalam melaksanakan aksi perubahan iklim. Perubahan iklim dalam jangka panjang menciptakan masa depan yang tak kita inginkan. Hal inilah yang ingin dicegah melalui kolaborasi terbaru antara C40 Cities, Global Covenant of Mayors, Acclimatise dan Urban Climate Change Research Network (UCCRN) bertema The Future We Don’t Want. Kolaborasi ini berupaya meningkatkan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi kota-kota dunia pada masa datang akibat perubahan iklim.

Ada enam tantangan utama yang akan dihadapi oleh kota-kota dunia seiring dengan terus memburuknya dampak perubahan iklim. Tantangan pertama adalah kenaikan suhu perkotaan yang ekstrem. Saat ini penduduk kota di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi bersama kota-kota besar lainnya, sudah merasakan dampak kenaikan suhu di perkotaan.

Efek jangka panjang perubahan iklim dikombinasikan dengan peningkatan polusi di perkotaan, minimnya ruang terbuka hijau, menciptakan dampak urban heat island yang panasnya tidak hanya dirasakan oleh penduduk kota namun juga menyebar ke wilayah-wilayah di sekitarnya.  Laporan C40 Cities memperkirakan, 1,6 miliar penduduk dunia di 970 kota akan merasakan dampak kenaikan suhu ekstrem pada 2050.

Tantangan yang kedua adalah peningkatan risiko perubahan iklim terhadap penduduk miskin. Laporan C40 menyebutkan 215 juta penduduk miskin kota di 495 negara berkembang akan terdampak peningkatan suhu ekstrem pada 2050. Mereka yang tinggal di pemukiman-pemukiman kumuh akan semakin menderita akibat perubahan iklim menambah beban hidup dari sisi ekonomi.

Tantangan ketiga adalah kelangkaan air bersih akibat perubahan iklim. Laporan C40 menyebutkan, jumlah penduduk dunia yang akan mengalami kelangkaan air bersih mencapai 650 juta di 500 kota dunia pada 2050.

Tantangan keempat adalah ancaman perubahan iklim terhadap ketahanan pangan. Laporan C40 menyebutkan, perubahan iklim akan mengurangi hasil panen produk-produk pertanian kunci hingga 10%. Sebanyak 2,5 miliar penduduk dunia di 1600 kota akan merasakan dampak kesulitan memperoleh bahan pangan ini yang memicu masalah-masalah lain seperti inflasi.

Tantangan kelima adalah kenaikan permukaan air laut. Sebanyak 800 juta penduduk perkotaan di 570 kota dunia akan terdampak banjir akibat kenaikan air laut. Penduduk di kota Semarang di Jawa Tengah misalnya sudah merasakan dampaknya. Rob sudah merangsak masuk merusak infrastruktur jalan, terminal hingga stasiun kereta, mengganggu perekonomian kota. Beberapa perusahaan seperti Nasmoco yang tadinya berlokasi di wilayah rob di Terboyo, bahkan sudah memindahkan pabrik dan kantor mereka ke kota sekitar seperti ke Demak.

Tantangan keenam adalah ancaman kekurangan pasokan energi. Sebanyak 270 pembangkit listrik di sejumlah kota dunia terus mengalami gangguan produksi energi akibat rob, banjir, cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut. Akibatnya, lebih dari 800 juta penduduk perkotaan akan semakin sering mengalami gangguan pasokan listrik pada 2050. Siap-siap hadapi banjir dan mati listrik!

Redaksi Hijauku.com

By | 2018-06-20T14:03:20+00:00 20 June 2018|Berita, Iklim, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *