8 Tahun Janji “Nol Deforestasi” Sawit Tinggal Janji

PEKANBARU  –  Buah  sawit  dari  kebun  yang  secara  tidak  prosedural  atau  ilegal dikembangkan di dalam Kawasan Hutan dan termasuk kawasan konservasi yang merupakan habitat satwa liar langka terus mencemari minyak sawit yang memasuki rantai pasok dari 24 pedagang dan merek global, padahal mereka telah membuat komitmen nol deforestasi. Begitu temuan satu laporan Eyes on the Forest (EoF) yang diterbitkan hari ini.   Kawasan-kawasan yang dilindungi telah hilang menjadi kebun sawit termasuk di sebagian habitat terakhir gajah dan harimau Sumatera yang sangat terancam kepunahan di Indonesia.

Investigasi  acak  bermetode  rantai  pengawalan  (chains-of-custody)  oleh  EoF  sejak  2011 menemukan 22 pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli tandan buah segar (TBS) ilegal yang  dipanen  di  dua  Kawasan  Nilai  Konservasi  Tinggi  di  Sumatera  tengah,  tepatnya  di lansekap Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. EoF menemukan, sebut saja Si 4 Besar:  GAR, Musim Mas, RGE dan Wilmar – telah membeli TBS ilegal dari pabrik-pabrik ini, seringkali berulang, padahal mereka sudah mengetahui telah tersangkut hal ini dari laporan-laporan EoF sebelumnya.

Pabrik-pabrik kelapa sawit juga di antaranya banyak menjadi pemasok langsung atau tak langsung dari pedagang dan pengguna sawit penting dunia yang memiliki komimtmen nol deforestasi  seperti temuan  investigasi  EoF,  yakni:  AAK,  ADM,  Bunge,  Cargill,  Colgate-Palmolive, Fuji Oil, General Mills, Kellogg’s, Louis Dreyfus, Mars, Mondelēz, Neste, Nestlé,  Olam, PepsiCo, Proctor & Gamble, Reckitt Benckiser,  Sime Darby dan Unilever. Temuan laporan telah diperlihatkan kepada perusahaan-perusahaan sebelum publikasi.

“EoF memuji transparansi dari semua perusahaan ini guna memulai mempublikasikan data terhadap  pabrik  pemasok  mereka  dan  kami  mengimbau  agar  perusahaan  lainnya  bisa mengikuti hal sama,” ujar Nursamsu, Leader Monitoring Deforestasi dan Advokasi WWF-Indonesia. “Kami tak heran menemukan banyak perusahaan yang tersangkut, karena kami tahu skala ilegalitas di lansekap-lansekap itu serta bagaimana para pemain lokal, termasuk Si 4 Besar, beroperasi.

EoF mengharapkan keterkaitan nama-nama kondang di industri sawit, akan bisa mengambil tindakan signifikan guna menggunakan kekuatan pembelian mereka dan pengakuan merek sebagai posisi kuat dalam membersihkan pasokan hilir mereka. Serta membalikan jejak deforestasi.  “Kami perlu bantuan mereka menghentikan segera  musnahnya hutan tropis yang kaya keanekaragaman hayati,” tambah Nursamsu. EoF meyakini kajiannya yang teridentifikasi hanya bak ujung gunung es. Kami yakin laporan merinci  gambaran  ilegalitas  meluas  di  sektor  minyak  sawit  di  Sumatera  bagian  tengah secara keseluruhan, tidak hanya di dua lansekap yang disorot. Sumatera tengah adalah titik nol bagi deforestasi terburuk di pulau Sumatera, yang sendirian jadi titik panas global untuk deforestasi. EoF menemukan truk-truk mengangkut tandan buah segar (TBS) ilegal berjalan sejauh 145 kilometer dan menghabiskan 5 hari lebih di jalan. Cukup panjang, jauh mencapai 200 pabrik CPO, jalanan di luar batas kabupaten dan provinsi dari asalnya di Taman Nasional Tesso  Nilo.  Laporan  terbaru  membuktikan  asumsi  laporan  kami  tahun  2016  bahwa  tak seorang  pun  yang  aman  dari  membeli  minyak  sawit  tercampur  dengan  ilegalitas  dan deforestasi. Selain itu, tanpa penyaringan pembelian di tingkat pabrik, penggunaan TBS yang ditanam ilegal mudah terjadi di banyak kawasan prioritas konservasi, yang mencemari lebih banyak lagi rantai pasok perusahaan global.

Laporan Eyes on the Forest Cukup sudah menyorot pentingnya menelusuri semua pasokan sawit sepenuhnya menuju perkebunan. Bagaimanapun, data yang dikumpulkan dari Si 4 Besar soal ketelusuran TBS mereka, menunjukkan jumlah besar TBS  yang diproses  jadi minyak sawit di dalam rantai pasok mereka, masih berasal dari sumber tak dikenal.

“Tanpa mengenali sumber sebenarnya, bagaimana mungkin orang merasa 100% aman dan mereka  tidak  akan  membeli  produk  bercampur  TBS  ilegal?”  kata  Woro  Supartinah, Koordinator  Jikalahari.  “Kelompok  4  Besar  sudah  memahami  meluasnya  pelanggaran  di Kawasan sejak lama, tetapi mereka masih menaruh prioritas mereka untuk mengamankan pasokan TBS yang cukup untuk mengisi permintaan fasilitas hilir. Dan ini sangat bergantung pada  pasokan  yang  tak  tepercaya  dari  perkebunan  pihak  ketiga,  agen  dan  pedagang. Dengan  mempertimbangkan  tanggungjawab  besar  bahwa  mereka  harus  melindungi pelanggan hilir mereka, mereka jelas gagal berupaya maksimal mengatasi persoalan ini.”

Kurang kuatnya metodologi penelusuran TBS juga berarti akan mustahil bagi perusahaan manapun melaksanakan komitmen menghentikan deforestasi, karena tak ada cara untuk mencari  apakah  TBS  yang  dipanen  dari  perkebunan  telah  ditanami  setelah  deforestasi.  “Apakah industri ingin dikenang karena sebelah tangannya menghancurkan Taman Nasional Tesso Nilo menjadi kebun sawit dan menyebabkan punahnya harimau Sumatera di Tesso Nilo sembari memiliki kebijakan nol deforestasi?” tanya Riko Kurniawan, Direktur Eksekutif WALHI Riau.

“Terlepas  bertahun-tahun  berkomitmen,  industri  masih  terjerat  konversi  hutan  menjadi sawit. Cukup sudah,” ujar Diki Kurniawan dari WARSI, anggota jaringan EoF di Sumatera. “Di  tahun  ke  delapan  sejak  kebijakan  ‘nol  deforestasi’  yang  pertama,  masih  ada  hal mendesak bagi industri dan masyarakat madani meninjau ulang semua kerja rantai pasok dan pencapaian sejatinya di lapangan. Sehingga mengarahkan upaya masa depan ke tujuan sejati komitmen nol deforestasi, yakni: menghentikan penghancuran di Kawasan seperti Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. Serta mulailah upaya membalikkan jejak  deforestasi ini.”

“Kurangnya tata kelola dan penegakan hukum di masa lalu telah berandil pada perambahan skala  besar terhadap hutan  dilindungi  menjadi  pengembangan  kebun  sawit.  Sejak  kami menerbitkan laporan yang lalu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah membentuk satuan gugus tugas Revitalisasi Ekosistem Tesso Nilo,” kata Woro Supartinah.

“Kami akan meneruskan investigasi mendukung tujuan tim RETN agar pabrik kelapa sawit (PKS)  berhenti  membeli  TBS  dari  perkebunan  ilegal  di  ekosistem  Tesso  Nilo.  Kami  pun berharap kelompok 4 Besar dan perusahaan lainnya bisa mendukung upaya Menteri LHK dengan bekerja bersama pemasok hulu mereka mencapai 100% ketelusuran TBS sesegera mungkin.  Sehingga  TBS  yang  diproduksi  atau  dipanen secara  ilegal  dan tak lestari  bisa diketahui, dipisahkan dan dikeluarkan.”

Koalisi  EoF  meminta  industri  sawit  dan  penggunanya  mematuhi  himbauan  Polda  Riau maupun  kebijakan  KLHK  agar  tidak  sembarangan  membeli  TBS  di  lansekap  Tesso  Nilo dimana sekitar 58 PKS sudah diperingatkan oleh kepolisian soal ini pada tanggal 17 Februari 2017.

Diki Kurniawan mengatakan, “menyusul contoh bagus dari Tesso Nilo, maka pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan, CSO dan masyarakat baru saja membentuk tim Bukit Tigapuluh di kabupaten Tebo untuk menyelamatkan dan merestorasi lansekap Bukit Tigapuluh,” tambah Diki Kurniawan. “Kami mendesak keras perusahaan mendukung upaya oleh tim RETN dan Bukit Tigapuluh melalui kontribusi signifikan guna mengatasi warisan deforestasi mereka dan mulai melindungi dan merestorasi sejumlah kawasan konservasi seperti  Tesso  Nilo  and  Bukit  Tigapuluh.  Tidak  bisa  diterima  jika  ada  industri  yang membahayakan upaya daerah untuk konservasi.”

-0-

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:

l     Woro Supartinah, Jikalahari / [email protected] / +62 813 1756 6965

l     Riko Kurniawan, WALHI Riau / [email protected] / +62 813 7130 2269

l     Nursamsu, WWF-Indonesia / [email protected] / +62 811 7582 217

Catatan kepada Redaksi:

Investigasi perdagangan TBS ilegal dari dua lansekap:

By |2018-06-08T10:19:16+00:008 June 2018|Lingkungan, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *