WHO, WMO Bekerja Selamatkan 12,6 Juta Jiwa

Dua lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa bekerja sama guna mengatasi ancaman perubahan iklim, cuaca ekstrem dan polusi udara yang mencabut lebih dari 12,6 juta nyawa setiap tahun. Kesepakatan kerja sama ini diumumkan Kamis, 31 Mei 2018 sebagaimana diberitakan oleh kantor berita PBB.

Perjanjian legal ini ditandatangani oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) di Jenewa, Swiss. Kedua lembaga sepakat untuk melindungi penduduk dunia dengan menggunakan data yang relevan dan valid terkait kondisi atmosfer, ancaman cuaca ekstrem serta perubahan iklim.

Menurut juru bicara, Clare Nullis, perjanjian legal ini merupakan wujud komitmen polik yang sangat kuat dari Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas dan Direktur Jenderal WHO, Tedros Ghebreyesus mengikuti kerja sama kedua lembaga yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Secara praktis kerja sama ini akan memastikan pertukaran informasi yang lebih baik di antara dua lembaga untuk digunakan secara maksimal oleh para profesional untuk meramalkan dan mencegah dampak perubahan iklim, cuaca ekstrem dan polusi udara terhadap kesehatan manusia, sekaligus menyelamatkan setidaknya 12,6 juta jiwa per tahun.

Hal tersebut salah satunya dicapai dengan mencegah kematian prematur akibat polusi udara yang memicu berbagai macam penyakit seperti strok, gangguan jantung, ISPA dan kanker. Setiap tahun diperkirakan tujuh juta penduduk dunia meninggal akibat polusi udara.

Sementara itu perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga terus terjadi di berbagai penjuru dunia. Yang terbaru adalah Badai Maria yang mencabut 64 jiwa di Puerto Rico September tahun lalu. Riset terbaru bahkan menyebutkan jumlah korban yang jauh lebih tinggi yaitu mencapai 4.600 jiwa akibat kerusakan di berbagai fasilitas kesehatan, pasokan listrik dan infrastruktur lain.

Peran WMO dalam meramalkan curah hujan dan temperatur juga akan bermanfaat untuk mengurangi berbagai macam risiko penyakit seperti malaria dan deman berdarah yang sangat bergantung pada dua kondisi tersebut.

Prediksi kekeringan secara ilmiah akan membantu para petani menghadapi musim kemarau. Semenyara peringatan suhu ekstrem dipakai untuk mencegah korban jiwa akibat kondisi suhu panas atau dingin yang berlebih. Koordinasi seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi lembaga-lembaga nasional untuk mengurangi dan mencegah risiko polusi udara, perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Redaksi Hijauku.com

By |2018-06-20T08:15:33+00:002 June 2018|Berita, Kesehatan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011, kami terus berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *