Indonesia Cemerlang Bila Timur Benderang

Oleh: Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan, Angga Romana dan Kurnianto Joyonegoro *

Desa Koloray adalah nama yang asing bagi kami. Desa ini terletak di satu pulau di batas negeri, di bibir Samudera Pasifik, di wilayah kepulauan Maluku Utara. Suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri dapat menikmati dan merasakan kehidupan yang luar biasa di tengah keterbatasan daerah terluar.

Di daerah ini kami belajar bagaimana menjalani kehidupan tanpa adanya akses listrik di malam dan siang hari, serta jaringan sinyal telepon yang sangat sulit untuk didapat. Namun keterbatasan yang dimiliki itu tidak membuat niat serta tekad kami berkurang untuk melakukan penelitian dan pengabdian di sana.

Keramahan, kesabaran, serta keikhlasan yang dimiliki oleh masyarakat setempat membuat kami dapat menjalani kehidupan dengan sangat nyaman. Keindahan pulau, dan panorama yang menakjubkan tidak akan lengkap jika tidak diimbangi dengan adanya kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ditetapkannya Kabupaten Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 50 tahun 2014 untuk bidang perikanan, logistik dan pariwisata tentu membuka peluang besar bagi kabupaten ini untuk melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut) memperkirakan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai, jika telah beroperasi, akan menyerap sedikitnya 100.000 tenaga kerja.

Selain sektor pariwisatanya yang berkelas dunia, Kabupaten Pulau Morotai juga memiliki potensi besar di sektor perikanan dengan luas lautan 1.970,93 km2 dan berdasarkan penelitian, potensi laut Pulau Morotai memiliki 160 jenis ikan yang bernilai ekonomis dan 31 jenis ikan bernilai komersial.

Universitas Indonesia, mencoba berpartisipasi dalam pengembangan potensi daerah kawasan timur Indonesia, terutama dalam hal penerapan teknologi energi terbarukan yang potensinya melimpah. Ada banyak cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dengan membangun sarana dan prasarana di desa tersebut guna meningkatan sumber daya manusia. Terutama untuk mencapai ketercukupan kebutuhan pokok mereka, yaitu pasokan listrik yang memadai.

Seperti yang telah diketahui, Indonesia memiliki rasio elektrifikasi sebesar 92.75%. Peningkatan rasio tersebut selalu naik tiap tahunnya, namun, berdasarkan data statistik besarnya rasio elektrifikasi Indonesia tidaklah berbanding lurus dengan beberapa desa yang berada di pulau-pulau bagian timur nusantara. Tercatat, rasio elektrifikasi di pulau-pulau bagian timur nusantara hanya sekitar 49.8%, sangat jauh dengan wilayah bagian barat Indonesia. Selain itu data statistik juga menyebutkan, masih ada 2.377 desa yang berada di kepulauan Maluku dan Papua yang belum bisa menikmati listrik.

Pada tahun 2014, masyarakat Pulau Koloray seluruhnya sudah dapat menikmati listrik yang berasal dari genset milik PLN. Namun, genset tersebut hanya bisa digunakan dalam waktu 1 tahun saja, sehingga pada tahun 2015 mayoritas masyarakat pulau Koloray kembali tidak dapat menikmati listrik hingga saat ini.

Sebagian masyarakat sudah memliki genset namun harga bahan bakar yang cenderung naik setiap tahun, ditambah keterbatasan persediaan dan lokasi desa yang cukup jauh dari pusat kota di Pulau Morotai menimbulkan masalah tersendiri bagi masyarakat desa.

Bertolak dari kondisi dan potensi di atas, kami tergerak untuk melakukan langkah nyata dengan membantu masyarakat tersebut agar dapat menikmati listrik melalui program pengabdian masyarakat. Wujud nyata pengadian ini adalah pemasangan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang akan digunakan untuk membuat es batu dan pendingin air minum, serta untuk beberapa penerangan masjid dan fasilitas umum warga.

Harapan kami, masyarakat Pulau Koloray dapat mengambil manfaat dari es batu dengan lebih mudah dan lebih murah untuk menjaga suhu serta kualitas ikan hasil tangkapan mereka. Karena selama ini es batu harus dibeli ke Pulau Morotai dengan harga yang cukup mahal.

Seiring dengan Pemasangan sistem PLTS ini, kami juga memberikan pelatihan kepada para pemuda bagaimana menjaga dan merawat peralatan tersebut, agar dapat terus bekerja dengan semestinya. Selain itu kami pun melakukan survei ke rumah-rumah penduduk untuk mendapatkan informasi berupa besarnya pendapatan, biaya pengeluaran mereka setiap bulan dan jumlah kepala keluarga. Hal ini terkait dengan seberapa kemampuan warga untuk membayar listrik.

Dengan adanya panel surya dan sosialisasi mengenai Energi Baru Terbarukan, secara tidak langsung dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar genset sebagai penghasil listrik. Pengurangan bahan bakar operasional genset tersebut, berdampak langsung pada aspek perekonomian masyarakat Koloray.

Solar Panel yang telah terpasang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar. Selain dapat membantu sistem penerangan warga, agar anak-anak bisa belajar saat malam hari, serta mengurangi penggunaan “lampu teplok,” lampu minyak tanah yang mempunyai resiko kebakaran dan mengganggu kesehatan.

Semoga langkah kecil ini memberikan kemanfaatan untuk warga, sebagai bentuk kepedulian terhadap keterbatasan infrastruktur saudara-saudara kita di bagian Timur Indonesia. Menjadi sebuah tanda, Indonesia akan cemerlang bila di Timur benderang.

–##–

* Kegiatan ini didanai oleh DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia), serta kerjasama dengan Universitas Khairun Ternate dan dukungan masyarakat Koloray.

By | 2018-07-03T19:07:28+00:00 28 May 2018|Komunitas, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *