Hutan Sebagai Warisan untuk Masa Depan

Oleh: Aisyah Safitri *                                   

“Ketika Pohon Terakhir Tumbang, sungai terakhir tercemar dan ikan terakhir mati, kita akan menyadari uang tidak akan bisa dimakan”.

Saat ini, suhu rata – rata bumi semakin meningkat setiap harinya. Hal itu membuktikan bahwasanya “Pemanasan Global” kini semakin marak terjadi. Dan salah satu usaha yang dilakukan untuk menguranginya adalah dengan melestarikan hutan. Hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan. Dan juga Indonesia pernah menjadi peringkat nomor satu di dunia untuk laju kerusakan hutan tercepat, yang tercatat di World Guinness Book of Records.

Prestasi lain juga diungkapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2013, Indonesia memiliki luas wilayah 1,3 % dari luas permukaan bumi dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, yaitu sekitar 17 % dari keseluruhan jenis makhluk hidup yang ada di bumi ini. Di dalamnya tersimpan lebih dari 28.000 jenis tumbuh-tumbuhan, diantaranya terdapat 400 jenis buah-buahan asli Indonesia yang dapat dimakan dan bermanfaat. Indonesia memiliki 7.500 jenis tanaman obat yang mana 10 % dari jumlah tumbuhan obat yang ada di dunia. Hal – hal tersebut merupakan prestasi membanggakan mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam.  Prestasi ini merupakan prestasi yang layaknya dijaga hingga kelak anak cucu kita mengetahui betapa kayanya Indonesia.

Namun, bukan berarti pula kabar baik tersebut tidak bisa menghilang seperti ditelan bumi. Tentu saja sebelum quote diatas terjadi di Indionesia, alangkah baiknya seluruh lapisan pihak masyarakat tergerak hatinya untuk menyelamatkan hutan yang merupakan salah satu asset Negara yang tak ternilai harganya.

Tanah yang Diberkahi

Menurut data dari World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 2003 bahwa Indonesia diberkahi dengan keberadaan hutan tropis sekitar 109 juta hektar. Hal itu membuat Indonesia berada di peringkat ke-3 di dunia, setelah Brazil dan Kongo. Selain itu, Indonesia juga memiliki nilai keragaman hayati yang luar biasa besar. Hutan merupakan rumah bagi berbagai flora dan fauna yang tak bisa dibandingkan dengan wilayah daratan lain yang luasnya sama. Bahkan saat ini, hampir setiap ekspedisi ekologi dalam menjelajahi hutan tropis Indonesia, kembali dengan penemuan spesies baru.

Berdasarkan berita dari British Broadcasting Corporation (BBC) menyatakan bahwa orangutan yang sempat menimbulkan pertanyaan itu dilaporkan keberadaannya setelah satu ekspedisi di hutan pegunungan terpencil Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada tahun 1997 lalu. Sejak itu sebuah proyek riset berusaha mengungkap rahasia biologisnya, dan membuahkan hasil. Spesies baru diberi nama orangutan Tapanuli, yang merupakan spesies ketiga setelah Borneo dan Sumatra. Orangutan Tapanuli itu merupakan spesies pertama kera besar yang baru ditemukan selama hampir satu abad.

Di Indonesia terdapat 10% spesies tanaman, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptilia dan amfibi , dan 17% dari spesies burung yang ada di seluruh dunia. Bahkan sejumlah spesies tersebut bersifat endemik, yaitu hanya terdapat di Indonesia dan tidak ditemukan ditempat lain, seperti burung cendrawasih di Papua, bekantan di Kalimantan, anoa di Sulawesi dan lain-lain.

Flora dan fauna endemik tersebut harus dijaga kelestariannya karena populasi mereka menentukan kestabilan ekosistem yang ada di muka bumi ini. Salah satu ilustrasinya adalah ketika keberadaan populasi orang utan yang mulai menurun memberikan dampak buruk bagi hutan. Orangutan merupakan salah satu agen penyebar biji tanaman. Orangutan menjadi agen penyebar biji tanaman karena memiliki perilaku unik, yaitu daya jelajah yang tinggi dan membawa buah-buahan saat mereka bergerak menjelajah. Perilaku itu yang membuat orangutan menjadi agen penyebar biji ideal dalam ekosistem hutan hujan tropis.

Selain menjadi surga bagi satwa liar dan spesies tanaman, hutan juga merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di didalam dan sekitar hutan. Puluhan juta masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya secara langsung pada hasil hutan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau bekerja di bidang perekonomian pada sektor pengolahan kayu. Sebagian dari mereka bahkan mempercayai beberapa jenis satwa langka seperti harimau dan orangutan adalah kerabat dekat yang harus dihormati. Mereka memegang teguh adat istiadat yang diturunkan dari leluhur mereka, beratus-ratus tahun lamanya. Mereka hidup damai berdampingan dengan satwa liar, bersinergi dengan alam. Namun, terkadang manusia lupa bagaimana cara yang tepat untuk menggantungkan hidup dengan alam.

Rusak karena Keserakahan

Keserakahan ataupun ketamakan menjadikan manusia rela mengorbankan apapun demi memuaskan nafsu mereka mendapatkan apapun yang mereka mau. Sampai kapan kita bisa bertahan jika kita hanya menggerogoti hasil hutan tanpa adanya aksi untuk melindunginya? Padahal ketika hutan mengalami deforestasi, hutan juga butuh waktu dan aksi reforestasi untuk bisa pulih kembali.

Tahukah Kita? Laju kehilangan dan kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Berdasarkan data dari World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan bahwa sejak tahun 1970 penggundulan hutan mulai marak di Indonesia. Pada tahun 1997-2000, laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun.

Saat ini diperkirakan luas hutan alam yang tersisa hanya 28%. Jika tidak segera dihentikan, maka hutan yang tersisa akan segera musnah. Kementerian Kehutanan di tahun 2011 mengeluarkan data bahwa sekitar 1.2 juta hektar hutan Indonesia hilang setiap tahunnya, hampir 5 kali lipat luas Negara Singapura. Dan hal itu berdampak buruk bagi flora dan fauna di Indonesia. Begitu pula dengan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia tengah terancam.

Maraknya perdagangan satwa ilegal, pencurian keanekaragaman hayati maupun sumber daya genetik serta lemahnya perlindungan hukum menjadi penyebab semakin berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya, populasi orang utan. Menurut data tahun 2008, di Kalimantan hidup sekitar 56.000 orang utan di alam liar. Namun akibat pembalakan hutan, dan diperparah dengan kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun, populasi orang utan saat ini diperkirakan tinggal 30.000 – 40.000.

Menurut Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), 16 bayi orang utan yang berada di hutan rehabilitasi di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, mengalami masalah kesehatan akibat paparan kabut asap. Belum ada informasi berapa ekor orangutan yang menjadi korban tewas akibat kebakaran hutan. Namun BOSF meyakini banyak orangutan yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang melanda hutan. Sejak kabut asap yang dipicu kebakaran hutan terjadi, orangutan juga kerap terlihat masuk pemukiman warga. Sebenarnya, orang utan dikenal sebagai hewan pemalu dan berusaha untuk menghindari kontak dengan manusia. Tapi karena habitatnya rusak atau musnah akibat kebakaran hutan, kini orang utan turun hingga ke permukiman penduduk untuk mencari makan dan bertahan hidup.

Secara garis besar ada empat macam industri yang memanfaatkan kawasan hutan yaitu hutan tanaman industri untuk pulp dan kertas, hak pengusahaan hutan, kelapa sawit, dan tambang. Selain tambang, industri yang lain mengubah hutan menjadi perkebunan. Menurut Laporan Dewan Nasional Perubahan Iklim tahun 2010, paling tidak industri pulp dan kertas bersama industri kelapa sawit akan menyumbang sekitar 50% dari estimasi deforestasi sebesar 28 juta hektar hingga tahun 2030.

Keberadaan hutan sangat penting bagi keberlangsungan Indonesia dalam banyak hal, terutama masalah ekonomi, memitigasi bencana lingkungan dan iklim global. Berbagai macam aksi telah dilakukan beberapa pihak untuk terus mempertahankan kelestarian hutan Indonesia. Salah satunya dengan mengisi petisi yang menyuarakan agar pihak pemerintah turut serta dan membuat hukum yang tegas untuk pelestarian di Indonesia. Diharapkan seluruh lapisan masyarakat juga beraksi dengan rasa cinta untuk melakukan kegiatan positif demi hutan di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi untuk mengkonsumsi kertas dan tisu. Karena tidak ada gunanya hanya mengutuki dan saling menuduh banyak pihak mengenai berbagai macam polemik mengenai hutan yang begitu viral saat ini. Tapi saatnya saling bahu membahu menyuarakan aksi dan kampanye positif bahwa Hutan itu Indonesia. Agar kelak suatu saat nanti ketika orang – orang mendengar nama “Indonesia” mereka akan mengingat bahwa Indonesia kaya akan “hutannya”.

–##–

* Aisyah Safitri adalah seorang penulis, aktivis dan guru yang tinggal di Medan, Sumatera Utara. Ia bisa dihubungi melalui surel: [email protected]

By |2018-05-20T16:34:40+00:0015 May 2018|Lingkungan, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *