Bebaskan Bumi dari Sampah Plastik

Bersihkan bumi dari sampah plastik menjadi tema Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati hari ini, Minggu, 22 April 2018. Earth Day Network bertindak sebagai organisasi yang memimpin kampanye global yang berupaya menghentikan penggunaan plastik sekali pakai.

Tujuan ini hendak dicapai melalui edukasi dan menggerakkan masyarakat di seluruh dunia agar aktif mendesak pemerintah dan perusahaan untuk mengendalikan dan membersihkan polusi sampah plastik.

Masyarakat juga didorong untuk memiliki tanggung jawab pribadi untuk menghilangkan polusi plastik dengan cara menolak, mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang plastik. Terakhir dengan terus mendorong terwujudnya kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Skala pencemaran sampah plastik sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Setidaknya 8 juta ton plastik mengotori lautan setiap tahun, atau setara dengan satu truk sampah plastik yang dibuang setiap menit ke laut.  Samudra Pasifik Utara menempati rangking pertama dengan jumlah sampah plastik terbanyak. Samudra Hindia ada di posisi kedua diikuti lautan di Atlantik Utara, Pasifik Selatan, Atlantik Selatan dan Laut Mediterania.

Masyarakat harus mencegah plastik dari sumbernya jika tidak ingin hidup dalam lautan sampah. Hampir setiap hari dalam hidup kita tidak bisa lepas dari penggunaan plastik, terlebih lagi kantong plastik sekali pakai.

Skala kerusakan

Pada tahun 1950, saat penduduk dunia hanya berjumlah 2,5 miliar, produksi plastik mencapai 1,5 juta ton per tahun. Saat ini, penduduk bumi telah mencapai 7 miliar jiwa, produksi barang-barang berbahan plastik menjadi 300 juta ton per tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan permintaan atas barang-barang plastik terus melonjak drastis – sebesar 2000% dalam 66 tahun terakhir. Tanpa aksi sistemis menghentikan produksi dan penggunaan barang plastik, dunia akan tercemari oleh lautan limbah plastik pada pertengahan abad ini. Karena jumlah plastik yang diproduksi dunia diperkirakan bertambah 33 miliar ton pada 2050.

Dari hasil produksi barang-barang plastik tersebut, sebanyak 32 juta ton plastik terbuang menjadi limbah yang tidak bisa ditangani pada 2010. Jumlah sampah plastik yang tak tertangani tersebut akan meningkat menjadi 100-250 juta ton pada 2025.

Tak hanya mencemari daratan, sampah plastik merugikan ekosistem laut sebesar US$8 miliar per tahun. Kerugian itu berasal dari kerugian di sektor perikanan, budi daya ikan, wisata bahari dan pembersihan limbah. Kerugian di industri wisata bahari saja bisa mencapai US$622 juta per tahun.

Greenpeace Indonesia menyatakan, akar utama permasalahan dari pencemaran sampah plastik saat ini adalah dominannya kebijakan dan pola pikir pragmatis, gaya hidup instan dan budaya ‘buang (jauh)’ yang tidak bertanggungjawab, serta perilaku produsen yang mengoptimalkan keuntungan semata dengan meninggalkan sebagian besar tanggungjawabnya.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah semula diharapkan dapat menjadi acuan kebijakan yang mempercepat efektifitas penanganan pengelolaan sampah secara nasional serta di tingkat pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten).

Semangat mendasar dari UU 18/2008 adalah mengedepankan strategi pengurangan timbulan sampah dan penanganan sampah yang sulit terurai oleh alam, seperti plastik, dengan mengamanatkan secara substantif pentingnya perluasan tanggungjawab produsen (Extended Producers Responsibility/EPR). Hanya saja, sangat disayangkan, hingga kini penegakan aturan EPR tersebut jalan di tempat.

Total kerugian akibat diproduksinya plastik untuk industri ritel (barang-barang konsumen, consumer goods) mencapai $75 miliar per tahun. Kerugian ini berasal dari dampak sampah plastik terhadap lingkungan, termasuk dampak pencemaran plastik di lautan dan plastik yang tidak didaur ulang, yang langsung dibuang di tempat pembuangan sampah akhir. Kerugian terbesar dari produksi plastik adalah dilepaskannya emisi gas rumah kaca, yang menyumbang sepertiga kerugian sumber daya alam dari produksi plastik.

Sehingga Hari Bumi tahun ini kembali menyeru setiap individu untuk menjadi solusi permasalahan sampah plastik. Bersihkan bumi dengan hatimu, lisanmu dan tanganmu, bebaskah bumi dari sampah plastik.

Redaksi Hijauku.com

By | 2018-04-22T18:01:17+00:00 22 April 2018|Berita, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *