Kondisi Alam dan Keanekaragaman Hayati Terus Menurun

Daya dukung dan daya tampung lingkungan serta kondisi keanekaragaman hayati berada dalam status berbahaya akibat perilaku manusia. Peringatan ini muncul dari hasil kajian terbaru Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang dirilis Jum’at, 23 Maret 2018.

Dalam kajian yang dilaksanakan selama 3 tahun berbiaya US$5 juta ini, tim ilmuwan meneliti ribuan laporan ilmiah, termasuk data dan informasi dari pemerintah, kearifan masyarakat adat dan kearifan lokal untuk mengetahui kondisi keanekaragaman hayati di seluruh permukaan bumi (di lahan basah, di wilayah pesisir dan di daratan) serta kontribusinya terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.

Kajian yang disusun oleh lebih dari 550 ahli dari 100 negara ini menyimpulkan, kondisi keanekaragaman hayati di wilayah Amerika, Asia Pasifik, Afrika, Asia Tengah dan Eropa terus menurun dan berada dalam kondisi yang berbahaya dalam mendukung kesejahteraan umat manusia.

Menurut laporan IPBES, daya dukung alam untuk kesejahteraan manusia terus terdegradasi, berkurang bahkan hilang. Penyebabnya adalah kerusakan habitat; keserakahan manusia yang terus mengeksploitasi bumi; penggunaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan; polusi udara, polusi air dan tanah; munculnya spesies asing invasif; serta akibat perubahan iklim beserta faktor-faktor yang lain.

Di benua Amerika, nilai kontribusi lingkungan di darat terhadap kesejahteraan penduduk mencapai lebih dari US$24 triliun per tahun atau setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) wilayah ini. Namun tim peneliti menemukan, 65% kontribusi lingkungan ini terus menurun dan 21% nya menurun dengan cepat.

Penyebabnya adalah perubahan iklim akibat perilaku manusia yang mempengaruhi suhu, curah hujan memicu cuaca ekstrem. Semua ini diperparah dengan eksploitasi sumber daya alam dan hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi habitat, polusi dan munculnya spesies invasif.

Menurut skenario ‘business as usual’ kerusakan keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim ini pada 2050 akan setara dengan kerusakan akibat alih guna lahan. Rata-rata populasi spesies di benua Amerika saat ini telah turun 31% dibanding pada masa penjajahan Eropa. Penurunan ini diperkirakan melonjak menjadi 40% pada 2050.

Laporan ini juga menggarisbawahi perubahan gaya hidup yang semakin menjauhkan masyarakat terhadap lingkungan, menggerus bahasa, budaya dan kearifan lokal. Lebih dari 60% bahasa-dan kebudayaan yang terkait-di benua Amerika saat ini tengah sekarat dan terancam musnah.

Afrika

Sama seperti benua Amerika, di benua Afrika, perubahan iklim menjadi pemicu punahnya lebih dari 50% spesies burung dan mamalia pada 2010, mengurangi produktivitas danau-danau di Afrika hingga 20-30% dan hilangnya tanaman-tanaman penting di Afrika.

Laporan ini menambahkan, 500.000 km2 lahan di Afrika telah terdegradasi akibat eksploitasi sumber daya alam, erosi, salinisasi (akumulasi garam dalam tanah) dan polusi, mengurangi daya dukung alam terhadap kehidupan manusia. Tekanan terhadap keanekaragaman hayati akan terus meningkat seiring kenaikan populasi di Afrika dari 1,25 miliar saat ini menjadi 2,5 miliar pada 2050.

Laut dan wilayah pesisir berkontribusi terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Afrika. Namun kerusakan terumbu karang akibat polusi dan perubahan iklim, berdampak lebih luas terhadap perikanan, keamanan pangan, wisata dan keanekaragaraman hayati di laut.

Asia-Pasifik

Jasa lingkungan dan keanekaragaman hayati berperan penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Pasifik. Namun kondisi keanekaragaman hayati di wilayah ini terus terancam oleh cuaca ekstrem, kenaikan air laut, eksploitasi pertanian, spesies asing invasif (dengan nilai kerugian ekonomi mencapai $35,5 miliar per tahun di Asia Tenggara) serta peningkatan pencemaran limbah dan polusi. Laporan IPBES menyatakan, 8 dari 10 sungai paling tercemar di dunia ada di Asia. Dari sungai-sungai inilah 95% sampah plastik yang saat ini mencemari lautan berasal.

Ekploitasi perikanan laut dan darat memicu kerusakan ekosistem dan terumbu karang terutama di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Jika praktik seperti ini terus berlanjut, laporan IPBES memperkirakan, tak ada lagi ikan yang bisa dieksploitasi di wilayah ini pada 2048. Sebanyak 90% terumbu karang diperkirakan akan terdegradasi parah pada 2050, bahkan dalam skenario perubahan iklim yang konservatif.

Selain wilayah pesisir, wilayah hutan, pegunungan, sungai, danau, kolam dan lahan basah lainnya termasuk ekosistem yang paling terancam di Asia-Pasifik. Sebanyak 24% spesies mamalia dan 29% spesies burung akan punah di hutan-hutan di dataran rendah Asia Tenggara (Sundaland) dalam beberapa dekade mendatang jika deforestasi terus terjadi seperti saat ini. Angka kehilangan spesies dan habitat akan meningkat 45% jika tidak ada upaya dan kebijakan untuk mencegahnya (business as usual).

Walau kondisi keanekaragaman hayati secara keseluruhan terus menurun, namun kabar baik juga muncul dari wilayah ini. Misalnya dalam 25 tahun terakhir, kawasan konservasi perairan (marine protected areas) meningkat hampir 14% sementara luas kawasan konservasi di darat naik 0,3%. Luas tutupan hutan juga naik 2,5%, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Asia Timur Laut (22,9%) dan Asia Selatan (5,8%).

Eropa dan Asia Tengah

Di wilayah ini, praktik pertanian dan kehutanan konvensional, yang memicu kerusakan lingkungan, terus berlanjut. Namun praktik pertanian dan kehutanan ramah lingkungan yang bermanfaat bagi alam dan keanekaragaman hayati juga terus berkembang. Hal ini dilandasai oleh kesadaran bahwa alam tidak hanya memasok pangan dan energi namun juga berkontribusi pada hal-hal yang non-material seperti budaya dan rasa memiliki atas wilayah tersebut.

Di wilayah Uni Eropa, laporan IPBES menyebutkan, hanya 7% spesies laut dan 9% habitat laut yang memiliki status konservasi yang “menguntungkan”. Selebihnya, 27% hasil kajian spesies dan 66% hasil kajian habitat melaporkan kondisi konservasi yang “tidak menguntungkan” ditambah katagori lain yang kondisinya “tidak jelas”.

Tim peneliti menyatakan, pertumbuhan ekonomi bisa mendorong praktik pembangunan berkelanjutan, jika dan hanya jika pertumbuhan ekonomi tersebut bisa menghindari degradasi keanekaragaman hayati dan kerusakan jasa lingkungan. Diperlukan perubahan kebijakan dan perpajakan dalam skala nasional dan global untuk mewujudkannya.

Laporan IPBES menyebutkan, pola pemanfaatan lahan secara tradisional, penerapan praktik dan pengetahuan adat serta kearifan lokal semakin ditinggalkan di Eropa dan Asia Tengah. Sementara subsidi terus mendorong pertumbuhan di sektor pertanian, kehutanan dan ekstraksi sumber daya alam. Jika tidak diatasi semua praktik ini bisa memicu konflik tata guna lahan, sebagaimana terjadi di wilayah yang lain.

Terakhir, laporan IPBES menyatakan, tercapainya target pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), Rencana Strategis Keanekaragaman Hayati 2011-2020, Target Keanekaragaman Hayati Aichi/Aichi Biodiversity Targets, dan Perjanjian atau Kesepakatan Paris bergantung pada kesehatan dan vitalitas lingkungan beserta keanekaragaman hayatinya.

Laporan ini menyimpulkan, mewujudkan ekosistem yang beragam dan kaya, meningkatkan daya tahan terhadap bermacam gangguan termasuk cuaca ekstrem, kekeringan, bencana banjir dan wabah penyakit. Melindungi dan memulihkan alam beserta keanekaragaman hayati menjadi kebijakan kunci yang harus terus dipertahankan melalui bantuan teknologi dan pelibatan masyarakat lokal.

Menurut laoran IPBES, semua ini memerlukan kerja sama antara pihak-pihak yang berkepentingan, baik dalam skala lokal, regional maupun global. Karena keanekaragaman hayati tak kenal batas wilayah administrasi, juga bencana dan perubahan iklim jika alam telah dilanda kerusakan.

Redaksi Hijauku.com

By | 2018-03-24T13:54:48+00:00 24 March 2018|Berita, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *