Degradasi Ekosistem Ubah Siklus Air Dunia

Setiap tahun permintaan air dunia naik 1% seiring dengan pertumbuhan ekonomi, populasi dan perubahan pola konsumsi di antara faktor-faktor yang lain. Dalam dua dekade ke depan, permintaan air untuk industri dan rumah tangga akan meningkat lebih cepat dari sektor pertanian, walau sektor pertanian masih menyumbang permintaan air terbanyak. Negara-negara berkembang menyumbang permintaan air terbesar.

Namun pada saat yang sama, siklus air dunia terjadi semakin kuat. Wilayah yang basah akan semakin basah. Sementara wilayah kering akan menjadi semakin kering. Hal ini terungkap dalam “The United Nations World Water Development Report 2018” yang dirilis Senin, 19 Maret 2018 menjelang peringatan Hari Air Dunia yang dirayakan hari ini, 22 Maret.

Laporan ini mengungkapkan, saat ini, diperkirakan 3,6 miliar penduduk (hampir separuh jumlah penduduk di bumi) hidup di wilayah yang berpotensi mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan dalam setahun. Jumlah populasi yang rawan air ini bisa meningkat menjadi 4,8–5,7 miliar pada 2050.

Laporan ini juga mengungkapkan, sejak tahun 1990-an, tingkat pencemaran/polusi air sungai terus memburuk di wilayah Afrika, Asia dan Amerika Latin. Gangguan terhadap kualitas air akan terus bertambah dalam dekade mendatang mengancam lingkungan, kesehatan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Pencemaran air yang paling sering di dunia adalah pencemaran dari bahan-bahan organik yang mengandung patogen atau parasit yang memicu wabah penyakit. Ratusan bahan kimia juga terus mencemari air yang berdampak pada menurunnya kualitas pasokan air dunia.

Ancaman polusi air terutama terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah akibat tingginya pertumbuhan populasi, ekonomi pada saat yang sama sistem tata kelola air limbah di negara-negara tersebut masih lemah.

Tren ketersediaan dan kualitas air disertai juga dengan proyeksi perubahan risiko yang terkait dengan air yaitu banjir dan kekeringan. Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa ini menyatakan, jumlah penduduk yang menghadapi risiko banjir diperkirakan akan meningkat dari 1,2 miliar saat ini menjadi 1,6 miliar pada 2050 (hampir 20% dari populasi dunia).

Sementara degradasi lahan/penggurunan dan kekeringan berdampak pada 1,8 miliar orang, menjadikan kekeringan, degradasi lahan/ penggurunan sebagai “bencana alam”yang paling banyak korban serta dampak sosial ekonomi diukur relatif terhadap Produk Domestik Bruto per kapita.

Degradasi ekosistem menjadi penyebab utama masalah tata kelola sumber daya air ini. Walau 30% dari wilayah daratan dunia masih berhutan, namun setidaknya dua pertiga wilayah bumi telah terdegradasi.

Laporan PBB menyebutkan, kondisi lahan dunia – terutama lahan pertanian – saat ini adalah sedang, buruk dan sangat buruk. Berdasarkan kajian terbaru, situasi ini semakin parah sehingga berpengaruh negatif terhadap siklus air: tingkat penguapan makin tinggi, penyimpanan air dalam tanah makin rendah, daya serap tanah menurun serta erosi meningkat.

Sejak tahun 1900, diperkirakan 64–71% wilayah lahan basah dunia hilang akibat aktivitas manusia. Semua perubahan ini berdampak negatif pada hidrologi dalam skala lokal, regional hingga global. Perubahan ekosistem seperti ini dalam sejarahnya telah berkontribusi terhadap musnahnya beberapa peradaban kuno. Pertanyaannya sekarang, apakah kita bisa menghindari nasib yang sama? Solusi berbasis alamlah yang akan menjawabnya.

Redaksi Hijauku.com

By |2018-03-22T19:26:21+00:0022 March 2018|Berita, Iklim, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *