Resiliensi Sosial Sebagai Virus Positif Lingkungan

Oleh: Ica Wulansari *

Resiliensi sosial adalah kemampuan kelompok atau komunitas untuk mengatasi tekanan dan gangguan eksternal sebagai hasil perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup (William Neil Adger, 2000).

Resiliensi sosial dalam hal ini tidak terkait dengan ketahanan dari perspektif keamanan. Resiliensi sosial dalam hal ini bagaimana individu-individu yang terikat dalam kelompok masyarakat maupun komunitas menciptakan pertahanan diri secara positif dalam menghadapi berbagai tekanan maupun gejolak baik sosial, ekonomi, politik dan lingkungan hidup.

Keseluruhan sektor sosial, ekonomi, politik dan lingkungan hidup mempengaruhi kestabilan nasional. Indonesia dengan karakter masyarakatnya yang heterogen sangat rentan terguncang dengan isu-isu sensitif. Sedangkan, tantangan global yang dihadapi bangsa ini begitu besar sehingga wacana dalam pusaran opini publik seharusnya sudah bergerak menuju wacana mengenai membangun keadilan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Seharusnya wacana terbesar yang disodorkan bagaimana penghargaan terhadap hak hidup dan terjaminnya kehidupan individu masyarakat sebagai manusia yang bermartabat.

Moral Individu

Tanggung jawab individu berupa kesadaran untuk menciptakan kondisi yang kondusif maupun berpartisipasi membangun tataran peradaban. Tanggung jawab individu muncul karena memiliki rasa sebagai bagian dari komponen bangsa yang perlu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Selain tanggung jawab individu, dibutuhkan pula keterbukaan dalam menghadapi segala perbedaan dalam masayarakat. Keterbukaan dapat didorong melalui proses pembelajaran yang terjadi secara terus menerus. Pembelajaran merupakan proses yang terus bergulir dengan mempelajari keadaan dan mempelajari hal-hal yang mendukung kemajuan diri yang bermanfaat bagi lingkungan. Di titik ini, proses pembelajaran tidak hanya bersifat formal, pembelajaran informal pun dapat dilakukan dalam diskusi-diskusi publik maupun diskusi dalam komunitas dan diskusi melalui media massa, media online dan media sosial yang bersifat dialogis.

Individu yang menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan pengetahuan, maka senantiasa berpikir secara optimis terhadap hal yang terjadi. Ilmu dan pengetahuan tidak hanya milik mereka yang bersekolah tinggi, setiap individu memiliki pengetahuannya yang unik, maka dalam hal ini penggalian secara dialogis dilakukan untuk saling menghargai setiap individu yang dapat memperkaya batin bahkan spiritual.

Dalam menciptakan resiliensi sosial dibutuhkan kesadaran bersama akan membentuk penyebaran virus-virus baik dari individu-individu yang melakukan praktek baik.

Resiliensi Sosial Menghadapi Perubahan Lingkungan Hidup

Istilah resiliensi sosial merupakan terminologi yang ditawarkan Profesor William Neil Adger yang merupakan Profesor Geografi Universitas Exeter, Inggris melalui tulisannya berjudul “Social and Ecological Resilience: Are They Related?”. Konsep resiliensi sosial berawal dari istilah resiliensi yang sangat dekat dengan kajian ekologi. Dalam resiliensi sosial, Adger memberikan penekanan bahwa dibutuhkan sedikitnya dua unsur yaitu kekuatan sosial ekonomi dan kelembagaan sosial meliputi upaya peningkatan pengetahuan dan pembelajaran dalam kelompok atau komunitas.

Mengapa perlu pengetahuan dan pembelajaran? Karena kondisi dinamika perubahan sosial dan politik yang mempengaruhi kondisi ekosistem, terjadi krisis lingkungan hidup, perubahan iklim dan berbagai ketidakamanan yang berdampak pada menurunnya debit air dan ketersediaan pangan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Hal-hal tersebut menyebabkan berbagai ketidaktentuan sehingga setiap individu membutuhkan kewaspadaan menghadapi berbagai dinamika tersebut.

Menghadapi dinamika lingkungan hidup tentu memiliki perbedaan dalam menghadapi dinamika sosial dan politik. Terdapat dua hal yaitu bagaimana ekosistem dan sistem sosial saling mempengaruhi. Pihak-pihak yang memiliki keterkaitan erat dengan dinamika lingkungan yaitu pihak yang hidup dan memiliki mata pencaharian tergantung pada alam diantaranya nelayan maupun petani.

Kelompok nelayan dan petani perlu memiliki optimisme sebagai bahan bakar utama untuk melakukan pembelajaran dan peningkatan pengetahuan. Namun, nelayan dan petani perlu dibantu oleh akademisi, pemegang kebijakan dan lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan kapasitasnya menghadapi dinamika alam sambil tetap mempertahankan praktek baik terhadap lingkungan.

Optimisme menghadapi tantangan alam menjadikan pembelajaran pula bagi masyarakat modern untuk mengingat era sustainability bukan hanya sekedar jargon menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan menjaga keseimbangan lingkungan, melainkan mengubah perilaku. Perilaku hidup ‘nyaman’ namun membebani lingkungan hidup (misal: penggunaan bahan bakar fosil untuk kendaraan, penggunaan listrik, memproduksi sampah plastik, konsumsi air dan sebagainya) perlu dikurangi dengan cara menambah pengetahuan dan melakukan pembelajaran refleksi terhadap diri dan alam.

–##–

* Ica Wulansari adalah penulis dan peneliti lepas isu politik lingkungan hidup dan sosial ekologi. Ica saat ini tengah menempuh pendidikan di Program Studi Doktor Ilmu Sosiologi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

By |2018-03-08T20:29:59+00:008 March 2018|Berita, Lingkungan, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *