Dialog Talanoa Dukung Komitmen Reduksi GRK Nasional

Jakarta, 5 Maret 2018 – Sebagai salah satu negara yang menandatangani Kesepakatan Paris 2015 untuk Perubahan Iklim, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% dari BAU (Business as Usual) pada 2030 dan 41% dengan dukungan internasional. Target ini akan tercapai bila mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk di dalamnya pemerintah daerah.

Saat ini, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah memiliki komitmen untuk melakukan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 30% di tahun 2030 berlandaskan instrumen Peraturan Gubernur nomor 131 tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Demikian juga dengan kota-kota seperti Kota Tangerang dan Kota Bekasi, meskipun belum memiliki nominal target penurunan emisi, namun secara faktual kota-kota ini telah memiliki komitmen dan aksi-aksi nyata dalam mendukung pencapaian penuruan emisi secara nasional.

Dalam upaya memaksimalkan model komunikasi dan peran aktif keterlibatan banyak pihak dalan mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution (NDCs), pada kegiatan COP 23 di Bonn pada bulan November 2017 lalu, pihak UNFCCC memutuskan untuk memperkenalkan dan mengadakan fasilitasi dialog yang menggunakan prinsip-prinsip Talanoa. Dialog dengan pendekatan Talanoa ini diharapkan dapat diselenggarakan di masing-masing negara yang telah berkomitmen dan menandatangani Kesepakatan Paris 2015.

Menurut Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Rachmat Witoelar, pendekatan Talanoa dapat menjadi wadah dialog semua pihak dalam mendukung penurunan emisi secara nasional dan global. Untuk itu, Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian perubahan Iklim (UKP-PPI) berkerja sama dengan ICLEI – Local Governments for Sustainability menyelenggarakan “Dialog Talanoa Indonesia menuju Pembangunan Kota Rendah Emisi) dan “Pertemuan Nasional dan Ahli untuk Program Ambitious City Promises (ACP) Indonesia” untuk mengembangkan aksi-aksi mitigasi perubahan iklim yang mengintegrasikan potensi-potensi yang berada di pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat umum.

Sejalan dengan hal tersebut, Sunandan Tiwari, Senior Project Manager for Global Projects ICLEI World Secretariat menambahkan bahwa program Ambitious City Promises akan mendukung pemerintah daerah DKI Jakarta, Kota Tangerang, dan Kota Bekasi untuk mewujudkan aksi iklim lokal yang dilakukan melalui proses pelibatan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan yang inklusif dan partisipatif.

Program ini dilaksanakan di tiga negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Filipina, dan Vietnam dengan bantuan pendanaan dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Konservasi Alam, Bangunan, dan Keamanan Nuklir (BMUB). Melalui program ini, ICLEI akan memberikan dukungan teknis kepada pemerintah daerah terkait dalam menyusun komitmen dan strategi pengurangan emisi gas rumah kaca yang ambisius, konkret, dan terukur.

ICLEI juga akan mengadakan berbagai pelatihan pengembangan kapasitas yang relevan dalam mencapai tujuan ini dan Seoul Metropolitan Government (SMG) akan berperan sebagai kota mentor yang akan membagikan pengalaman mereka dalam menyusun rencana aksi perubahan iklim yang komprehensif melalui proses pelibatan masyarakat yang intensif. Secara khusus, perwakilan SMG hadir pada ini untuk berdiskusi secara mendalam tentang pengetahuan dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan kota-kota peserta program ACP di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Kota Bekasi dan Kota Tangerang, dalam membangun kota yang rendah emisi, termasuk tentang kebijakan dan bimbingan teknis pelaksanaan program ACP antara SMG dengan.

Lebih jauh, sebuah National Advisory Group yang terdiri dari perwakilan pemerintah nasional, LSM, akademisi, dan individu yang peduli dan perpengalaman untuk agenda perubahan iklim dibentuk untuk memberikan dukunga konsultatif bagi pelaksanaan aksi iklim di tingkat lokal.

Keberadaan National Advisory Group ini diharapkan dapat membantu untuk: 1) memperkuat strategi pengintegrasian pengembangan pembangunan rendah emisi di tingkat lokal; 2) meningkatkan integrasi vertikal antara pemerintah daerah dan pemerintah nasional di Indonesia; 3) memperluas jangkauan proyek yang relevan; 4) membantu pemerintah nasional dalam meningkatkan proses koordinasi horizontal mengenai pengembangan pembangunan rendah emisi, keterlibatan warga negara dan pelaporan program penurunan emisi ke tingkat nasional dan global; dan 5) menciptakan sinergi antar program pemerintah nasional yang ada, sekarang, dan yang akan diusulkan.

Kontak Person:

  1. Gina Karina, Interim Country Manager ICLEI Indonesia ([email protected])
  2. Lia H. Zakiyah, Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim di ([email protected])

Selamet Daroyni, Lead Project Officer for ACP ICLEI Indonesia ([email protected]/ +62 8211 0683 102)

Catatan Redaksi:

Dialog Talanoa merupakan suatu platform komunikasi yang inklusif, partisipatif, dan transparan serta berfokus dalam membangun kepercayaan dan mutual respek sehingga keputusan yang diambil dapat bermanfaat bagi seluruh pihak. Dalam prosesnya, setiap dialog yang dilakukan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat umum harus berpegang pada tiga pertayaan kunci yaitu: dimana kita sekarang, kemana kita akan melangkah dan bagaimana kita akan mencapainya, sehingga dialog dapat berjalan secara konstruktif. Diharapkan dengan diterapkannya proses ini dapat membangun kepercayaan para pihak dan menghasilkan keputusan yang bijaksana dan bermanfaat untuk memperkuat komitmen sebagaimana tertuang dalam dokumen Kesepakatan Paris.

–##–

By |2018-03-08T05:36:38+00:006 March 2018|Iklim, Komunitas, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *