Inspirasi Ibu Terang dari Lamalera

Oleh: Abdullah Faqih *

Meskipun akses terhadap energi listrik telah dinikmati oleh sekitar 227 juta penduduk Indonesia, kita harus menyadari bahwa di sana masih ada sekitar 30 juta penduduk lainnya yang belum menikmati akses terhadap listrik. Suku Lamalera yang tinggal di wilayah timur Indonesia bernama Desa Lamalera, Pulau Lembata adalah salah satu yang merasakan hal itu. Wilayah tempat tinggal mereka  berada di bawah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dikategorikan sebagai daerah tertinggal dan terbelakang karena jarak yang harus ditempuh bisa mencapai 280 kilometer dari ibu kota provinsi.

Paling tidak, memakan waktu hampir 24 jam dengan kapal laut untuk menjangkau Desa Lamalera, apabila berangkat dari ibu kota provinsi. Sesampainya di sana, kita juga perlu melewati jalanan sepanjang 86 kilometer dengan aspal di badan jalan yang hancur, dipenuhi bebatuan serta harus melewati jalanan dengan batuan kapur yang berlubang. Kurang lebih, ada sekitar 200 penduduk yang mendiami wilayah itu. Hampir setiap hari, mereka merasakan kesulitan hidup akibat akses terhadap listrik yang sangat terbatas. Sumber energi listrik yang mereka gunakan seluruhnya digantungkan pada Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang dikendalikan oleh pemerintah. PLN adalah pemasok listrik terbesar di Indonesia yang mengandalkan fossil fuel sebagai bahan bakunya. Pasokan energi listrik yang disedikan PLN untuk wilayah tersebut selama ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 200 penduduk dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya.

Sebagai konsekuensinya, Suku Lamalera sering merasakan kondisi kampung yang gelap gulita tepat setelah pukul 7 malam. Mengisi daya batrei hand phone, membuat kopi dengan alat pemanas dari listrik, mengakses internet, dan mengoperasikan komputer seperti yang biasa kita lakukan adalah hal yang hanya ada di angan-angan bagi mereka.

Kondisi ini membuat anak-anak Suku Lamalera kesulitan belajar ketika malam. Para laki-laki tidak bisa mencari ikan di malam hari untuk mencukupi asupan pangan keluarganya. Begitu pun dengan para perempuan, mereka kesulitan membuat kain tenun di malam hari serta ketakutan apabila harus berjalan ke luar rumah.  Ketiadaan penerangan itu membuat mereka rawan mengalami kekerasan seksual. Kondisi semacam itu bisa terjadi sepanjang hari, berminggu-minggu, bahkan hingga dua bulan penuh tanpa ada listrik.

Dimensi Gender

The energy poverty yang dialami oleh Suku Lamalera juga dirasakan oleh penduduk lokal di lima desa lain di sekitarnya, seperti Desa Beutaran, Lelata, Leworaja, Imulolong, and Belobao. Ketiadaan akses terhadap energi listrik memengaruhi kehidupan seluruh penduduk, baik laki-laki maupun perempuan. Bagaimana pun, energy poverty juga memiliki dimensi gender: perempuan jauh lebih terkena pengaruh dari energy poverty daripada laki-laki. Terutama perempuan lokal di wilayah pedalaman, energy poverty membuat mereka harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dalam kondisi gelap. Seorang perempuan lokal bernama Mama Kimilia mengatakan, “Dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi, saya bekerja membuat kue. Anak-anak saya kemudian akan menjual kue itu keliling ke kampung-kampung. Kalau tidak ada lampu, saya terpaksa tidak bisa membuat kue. Besoknya, saya tidak bisa membeli bahan pangan karena tidak memiliki uang”.

Untuk memperoleh sumber penerangan, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sekaligus untuk memastikan anak-anak mereka bisa belajar di malam hari, perempuan Lamalera menggunakan lampu minyak tanah. Penggunaan lampu tersebut sangat berbahaya karena tergolong dirty energy yang menyebabkan polusi udara dari rumah tangga. Di samping itu, alat penerangan itu juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mereka. Sebagaimana yang dikatakan World Health Organization (WHO), diperkirakan ada 6.5 miliar orang meninggal karena penggunaan sumber penerangan tersebut.

Sebuah Harapan dari Seberang

Di tahun 2011, harapan perempuan Lamalera untuk bisa memiliki akses terhadap penerangan muncul ketika Kopernik datang ke desa mereka. Kopernik adalah sebuah venture philantrophy yang mendistribusikan teknologi tepat guna untuk masyarakat pedalaman di Indonesia. Kopernik didirikan oleh Toshi Nakamura dan Ewa Wojkowska yang sebelumnya bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu program unggulan mereka adalah ‘Ibu Inspirasi’ atau Wonder Woman Initiative yang mendistribusikan lampu bertenaga surya kepada para perempuan di rural area.

Lampu tenaga surya tersebut berjenis S20 dan S300 yang memiliki desain praktis, sederhana, mudah dipindahkan, tahan banting dan ringan. Untuk mengoperasikan lampu tersebut, perempuan Lamalera hanya perlu menjemurnya di bawah terik matahari guna memanen sinar matahari sebagai sumber energinya. Dengan terik matahari maksimal, paling tidak, lampu tenaga surya itu bisa menyala selama 8 jam dan selama 4 jam apabila terik matahari temaram. Sumber energi matahari tersebut menjadikan lampu tenaga surya sebagai green technology karena tidak menggunakan  fossil fuel, melainkan memanfaatkan energi matahari yang ramah lingkungan.

Lampu tenaga surya dari Kopernik dijual dengan harga IDR 200.000 sampai dengan IDR 500.000, dengan garansi selama 1 tahun. Lampu yang berbentuk seperti botol minum itu didistribusikan sebagai pengganti lampu minyak tanah yang banyak digunakan oleh penduduk Desa Lamalera, sekaligus untuk menjawab persoalan terbatasnya pasokan listrik oleh PLN.

Kpernik tidak memberikan lampu tersebut secara gratis kepada perempuan di Lamalera. Mereka percaya bahwa memberikan aid secara gratis tidak akan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Toshi mengatakan, “Kita tidak boleh memperlakukan mereka sebagai passive recipients. Mereka harus dibantu agar dapat memiliki kehidupan yang berkelanjutan”. Untuk itu, Kopernik menjaring beberapa perempuan untuk menjadi pengusaha mikro-sosial yang bertugas untuk menyalurkan lampu tenaga surya kepada mereka yang mengalami permasalahan energy poverty. Para perempuan tersebut oleh Kopernik kemudian disebut sebagai ‘ibu inspirasi’ atau wonder woman. Para ibu inspirasi itu akan ikut membantu memperbaiki taraf kehidupan penduduk lokal lainnya dengan mendistribusikan teknologi hijau dan bersih.

Melalui lampu tenaga surya yang berhasil dijual, para ‘ibu inspirasi’ akan memperoleh komisi dan tambahan penghasilan. Mereka memang tidak menciptakan teknologi lampu tenaga surya sendiri, mereka ‘hanya’ menjadi distributor dari Kopernik. Namun demikian, mereka berhak menentukan harga jualnya sendiri sesuai dengan jarak dan moda transportasi yang mereka pilih. Sebagai misal, Kopernik menentukan harga 1 unit lampu tenaga surya sebesar Rp200.000- Rp500.000, para ‘ibu inspirasi’ berhak untuk menjualnya lebih dari harga yang ditentukan itu. Mereka juga berhak memutuskan akan menjual lampu tersebut secara kredit, kontan atau dengan sistem pembayaran lainnya.

Para ‘ibu inspirasi’ tidak hanya mendistribusikan lampu tenaga surya, mereka juga diberikan berbagai macam pelatihan terkait softskill penting untuk kehidupan mereka, seperti literasi keuangan yang mencakup cara mengelola keuangan rumah tangga, marketing, dan skills lain yang diperlukan ketika menjadi ‘ibu inspirasi’.

Perubahan di Ujung Pulau

Banyak perubahan yang mereka alami dengan adanya lampu tenaga surya dari Kopernik. Kini, anak-anak di Desa Lamalera bisa belajar dengan nyaman. Para perempuan bisa membuat kain tenun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa terhalang ketiadaan alat penerangan.. Begitu pun dengan para laki-laki, mereka tidak perlu takut tidak mendapat ikan ketika menyuluh, karena kini mereka memiliki alat penerang yang memadai. Lebih dari itu, para ‘ibu inspirasi’ juga berhasil memperoleh tambahan sumber pendapatan untuk kesejahteraan keluarganya. Salah satu ‘ibu inspirasi’ bernama Mama Rovina misalnya, telah berhasil membangun rumah sendiri dari hasil menjual lampu tenaga surya. Sebelumnya, ia hidup menumpang di rumah tetangga karena suaminya pergi merantau tanpa ada kabar, sementara ia harus menanggung sendiri kehidupan dua anaknya yang masih kecil. “Dulu saya bermimpi ingin memiliki rumah sendiri, meskipun sederhana. Dengan menjual lampu tenaga surya dari Kopernik, sekarang saya memiliki mimpi-mimpi lain, yaitu menabung agar bisa menyekolahkan anak-anak saya”, kata Mama Rovina.

Kerja keras Mama Rovina dan ‘ibu inspirasi’ lainnya telah membuat hampir seluruh penduduk di sana memiliki alat penerangan yang memadai, yaitu lampu tenaga surya yang ramah lingkungan. Di tahun 2016, sudah ada 388 ‘ibu inspirasi’ di Desa Lamalera dan wilayah sekitarnya yang bergabung dengan program itu. Para ‘ibu inspirasi’ itu berhasil membuat 62,775 orang lainnya di seluruh Pulau Lembata meraih kualitas hidup yang lebih baik lewat teknologi hijau, seperti solar laterns, solar home systems, dan water filter (Kopernik). Rata-rata, mereka mampu meraih peningkatan pendapatan per bulan sebesar 12% dari penjualan produk teknologi itu.

Perusahaan Listrik Negara dengan menggunakan fossil fuel kesulitan mencukupi kebutuhan masyarakat lokal di Indonesia akan energi listrik. Sementara itu, lampu tenaga surya yang dikendalikan langsung oleh perempuan lokal dapat melakukannya. Jika sebelumnya mereka harus menghabiskan Rp50.000 – Rp100.000 per bulan untuk membeli minyak tanah, melalui lampu bertenaga surya mereka hanya perlu mengeluarkan Rp5.000 – Rp10.000. Keberadaan teknologi yang ramah lingkungan itu membuat perempuan Lamalera merasa aman apabila akan melakukan aktivitas di luar ruangan. Keluarga mereka juga akan terbebas dari risiko berbagai penyakit pernapasan akibat penggunaan lampu minyak tanah. Lebih jauh lagi, akses energi yang lebih baik juga membuat mereka dapat mengeksplor potensi terbaiknya untuk menciptakan kehidupan yang berkelanjutan. Tidak hanya memberikan keuntungan pada diri mereka sendiri, peran para ‘ibu inspirasi’ melalui Wonder Women Initiative  juga telah berhasil membantu pemerintah mengurangi emisi CO2 sebesar 5.000 ton (Kopernik).

Apa yang dilakukan oleh perempuan Lamalera mengilhami sesuatu yang kita sebut sebagai “energy democracy”. Masyarakat Lamalera, melalui peran perempuan lokal, telah beralih untuk tidak lagi terlalu bergantung pada sumber energi dari fossil fuel yang selama ini dinilai berkontribusi mempercepat perubahan iklim. Mereka telah menggantungkan hidupnya pada new and renewable energy melalui lampu bertenaga surya. Tidak hanya menjadi konsumen NRE secara pasif, mereka juga memiliki kapabilitas untuk mendistribusikannya kepada penduduk lain yang mengalami persoalan serupa, menentukan harga jual produk di pasar, serta memutuskan metode pembayaran yang tepat. Pemerintah lokal dan Kopernik tidak lagi menguasai seluruh profit, mereka hanya bertugas untuk memproduksi teknologi NRE dan memonitoring implementasi project. Selebihnya, masyarakat lokal lah yang memiliki kewenangan. Energi baru dan terbarukan tidak hanya mempermudah kehidupan keseharian penduduk lokal, melainkan juga ikut meningkatkan kesejahteraan mereka secara ekonomi. Itulah bagaimana “energy democracy” bekerja. “Ibu terang Nusantara, wanita menjadi pelita, bagi sahabat saudara, untuk Indonesia tercinta”, begitu kata para ‘ibu inspirasi’.

* Abdullah Faqih adalah mahasiswa di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Ia bisa dihubungi melalui surel di: [email protected]

–##–

Catatan Redaksi:

Foto-foto dalam tulisan ini diambil penulis dari situs Kopernik.info

By |2018-03-25T19:11:13+00:0030 January 2018|Gaya Hidup, Komunitas|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *