Tahun 2017 adalah Tahun Cuaca Ekstrem

Total kerugian ekonomi akibat bencana (alam dan akibat perilaku manusia) di 2017 mencapai $306 miliar atau lebih dari Rp4.100 triliun, naik hampir dua kali lipat dibanding tahun 2016 yang $188 miliar. Hal ini terungkap dari berita Sigma dari Swiss RE yang dirilis Rabu, 20 Desember 2017.

Akumulasi kerugian ekonomi akibat bencana ini sebagian besar terjadi pada semester kedua 2017, dipicu terutama oleh tiga bencana alam raksasa – badai Harvey, Irma dan Maria – yang menghantam wilayah Karibia dan Amerika Serikat, serta tragedi kebakaran terbesar di California.

Di seluruh dunia lebih dari 11.000 penduduk meninggal atau hilang dalam bencana pada 2017, nilai ini kurang lebih sama dengan jumlah korban bencana alam di 2016.

Cuaca ekstrem menjadi sumber utama kerugian asuransi di AS pada semester kedua 2017. Badai kategori 4+ yaitu – Harvey, Irma, and Maria (HIM) – pada bulan Agustus dan September, menghancurkan wilayah pantai Texas (Harvey) hingga Florida Barat dan Karibia (Irma dan Maria), yang menimbulkan kerugian asuransi sebesar $93 miliar.

Setelah 12 tahun AS tidak dilanda badai besar, badai HIM menerjang AS pada 2017, menimbulkan kerugian terbesar kedua dibanding 2005. Pada 2005, AS dilanda tiga badai raksasa yaitu Katrina, Rita dan Wilma.

Negara bagian California, AS juga dilanda kebakaran terbesar sepanjang sejarah dengan nilai kerugian properti sebesar $7,3 miliar. Kebakaran terus terjadi hingga bulan ini sehingga nilai kerugian diperkirakan akan meningkat.

Lima peristiwa topan badai di AS dari Februari hingga Juni memicu kerugian masing-masing $1 miliar. Badai dengan kerugian terbesar di AS terjadi pada bulan Mei selama 4 hari di wilayah Colorado dengan kerugian mencapai $2,8 miliar dan kerugian asuransi mencapai $2,5 miliar.

Selain di AS, bencana alam juga terjadi di Meksiko yang dilanda dua gempa dahsyat di Tehuantepec dan Puebla, menimbulkan korban harta dan nyawa dengan nilai kerugian asuransi mencapai $2 miliar.

Awal tahun ini, pada akhir Maret, siklon kategori 4, Debbie menghantam pantai timur laut Australia. Angin dengan kecepatan 263 km/h dan banjir yang menyebar di Queensland bagian tengah dan tenggara dan timur laut New South Wales memicu kerugian asuransi sebesar $1,3 miliar.

Pada akhir April, Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem disusul oleh gelombang panas ekstrem pada musim panas di sejumlah lokasi yang semakin menegaskan tahun 2017 menjadi tahun cuaca ekstrem. Kerugian akibat banjir juga terjadi di Asia Tenggara yang tidak hanya merusak tapi juga menimbulkan banyak korban nyawa.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, dari 1 Januari hingga 29 Desember 2017, telah terjadi 2.341 kejadian bencana di Indonesia yang menyebabkan 377 jiwa tewas, 3,5 juta jiwa mengungsi dan menderita, ratusan ribu rusak.

Jika kita melihat data ini lebih dalam, bencana banjir, puting beliung dan tanah longsor mendominasi bencana yang terjadi di Indonesia selama 2017. Ketiga bencana ini adalah bencana hidrometeorologi, atau bencana yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca. “Bencana adalah keniscayaan. Kita harus siap menghadapi,” tutur Sutopo.

Redaksi Hijauku.com

Catatan Redaksi: Artikel sudah diperbaharui dengan data terbaru dari BNPB per 29 Desember 2017.

By | 2018-01-31T06:47:43+00:00 23 December 2017|Berita, Ekonomi, Iklim|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *