Menyelamatkan Harimau, Selamatkan Lingkungan

Setiap sen dana yang dialokasikan untuk penyelamatan harimau membawa manfaat besar bagi lingkungan dan jutaan penduduk dunia.

Manfaat yang sebelumnya tak terlihat ini terungkap dalam laporan terbaru WWF berjudul “Beyond the Stripes: Save Tigers, Save so Much More” yang diluncurkan Senin, 27 November 2017. Laporan ini diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun ke-7, Konferensi Tingkat Tinggi Harimau atau Tiger Summit yang berlangsung di St. Petersburg, Rusia.

Bentang alam harimau dari mulai hutan mangrove di wilayah Sundarban, hutan hujan tropis hingga pegunungan bersalju di Bhutan adalah ekosistem yang sangat penting bagi dunia.

Wilayah-wilayah ini adalah bagian dari alam liar yang tersisa di Asia yang memiliki kekayaan hayati yang sangat tinggi yang memberi jasa lingkungan dan produk-produk yang bermanfaat bagi jutaan penduduk dunia yang menggantungkan hidupnya dari wilayah ini.

Wilayah ini juga mencegah dampak negatif perubahan iklim, menjadi sumber air bersih bagi jutaan penduduk serta mengurangi risiko bencana alam dan merebaknya penyakit akibat kerusakan lingkungan.

Laporan ini menyatakan, dengan menyelamatkan bentang alam yang menjadi habitat harimau, dunia setidaknya bisa melindungi 9 daerah aliran sungai (DAS) yang mengatur dan menyediakan air bersih bagi 830 juta penduduk di Asia, termasuk mereka yang hidup di wilayah perkotaan di India, Malaysia, Indonesia dan Thailand.

Manfaat yang tak kalah penting, dengan melindungi lanskap atau bentang alam yang menjadi habitat harimau, dunia juga akan melindungi hutan alam yang tersisa yang berperan penting menyerap dan mengurangi polusi karbon yang menjadi pemicu perubahan iklim.

“Setiap dolar (dana) yang diinvestasikan untuk menyelamatkan harimau di alam liar juga membantu menyelamatkan spesies-spesies lain yang terancam kelestariannya beserta jasa lingkungan, yang penting bagi jutaan penduduk dunia,” ujar Michael Baltzer, yang memimpin WWF Tigers Alive.

Saat ini, habitat dan populasi harimau di alam liar terus terancam. Harimau telah kehilangan 95% wilayah jelajah mereka. Kucing besar ini saat ini terjebak dalam populasi-populasi kecil di hutan-hutan alam yang tersisa di Asia.

Menurut laporan ini, bahkan di wilayah-wilayah yang masih terdapat harimau, 43% habitat harimau akan hilang akibat praktik alih guna lahan untuk perkebunan dan pertanian yang tidak ramah lingkungan. Deforestasi terus terjadi terutama di Malaysia dan Indonesia yang juga menyumbang polusi/emisi karbon dari degradasi hutan terbesar di dunia.

Jika tren ini terus terjadi, deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia dan Malaysia hanya akan menambah polusi karbon di udara yang akan memperparah dampak perubahan iklim. Hutan tidak lagi bisa berfungsi sebagai penyerap karbon.

Laporan WWF menyatakan, di Sumatra – satu-satunya habitat bersama harimau, orangutan dan badak di dunia – telah kehilangan lebih dari 50% tutupan hutan alamnya dalam 30 tahun terakhir.

“Kesuksesan perlindungan harimau di alam liar adalah indikator sempurna bagi keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Asia. Dengan pertumbuhan ekonomi Asia yang pesat, memprioritaskan konservasi harimau akan membantu menyelamatkan aset-aset lingkungan (natural
capital) yang penting untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan,” ujar Baltzer.

“Melindungi lanskap harimau memberi manfaat baik bagi harimau maupun bagi generasi mendatang. Jika kita gagal melindungi harimau di alam liar, kita juga gagal menyelamatkan lebih banyak aset-aset lingkungan lain yang tersisa,” pungkas Baltzer.

Redaksi Hijauku.com

By | 2017-12-05T08:49:59+00:00 28 November 2017|Berita, Fauna, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *