Mega Proyek Ancam Ekosistem Leuser, Situs Warisan Dunia

Pembangunan mega proyek oleh perusahaan asing di Kawasan Ekosistem Leuser dapat menghancurkan habitat satwa liar yang terancam punah, mengancam hidup ribuan penduduk di Sumatra, dan keseimbangan iklim dunia.

Aceh, 9 November 2017 – Aktivis lingkungan meminta pemerintah untuk menghentikan ataupun menolak proyek pembangunan berskala besar yang dapat menghancurkan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Pembangunan tersebut dinilai tidak tepat dan dapat berdampak buruk terhadap keanekaragaman hayati serta menimbulkan risiko berbahaya bagi masyarakat.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, yang baru dilantik bulan Juli lalu, pernah menyatakan menolak pembangunan panas bumi oleh perusahaan asal Turki, PT. Hitay Energy di Kawasan Kappi, jantung Ekosistem Leuser, dan meminta pembangunan proyek tersebut dipindahkan. “Saya sendiri yang akan membatalkan proyek ini”, kata Irwandi dalam suatu wawancara oleh media. Irwandi pun kemudian beralih fokus ke pengembangan proyek panas bumi di Seulawah yang berada di luar KEL.

Pemerhati lokal dan internasional memberikan pujian terhadap keputusan sang gubernur dan meminta Irwandi untuk membatalkan semua rencana pembangunan yang menghancurkan KEL. “Kami berterima kasih atas langkah cepat Pak Gubernur untuk menolak upaya penghancuran Leuser dan memuji kepemimpinannya yang segera menemukan lokasi alternatif lebih dekat dengan perkotaan dan lebih bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan”, kata Rudi Putra, pemenang Goldman Environmental Award 2014. “Namun perlu diingat bahwa masih ada ancaman-ancaman lain terhadap kelestarian KEL warisan dari pemerintahan yang sebelumnya. Proyek-proyek tersebut akan berdampak dahsyat terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan keanekaragaman hayati”, lanjutnya.

Salah satunya adalah mega proyek PLTA Tampur yang berisiko menenggelamkan 4,000 ha hutan KEL dengan menampung 600 juta ton air dalam waduk, berlokasi di daerah yang paling sering mengalami gempa besar di Indonesia. “Ratusan ribu masyarakat yang tinggal di hilir sungai di Aceh Tamiang akan sangat terancam, risikonya kabupaten itu bisa tersapu hilang dari peta. Kita tentu masih ingat bagaimana dahsyatnya gempa bumi dan tsunami terjadi di Aceh tahun 2004, tidak terbayangkan apabila bencana seperti ini terjadi lagi”, ujar Farwiza Farhan ketua Yayasan Hutan Alam Konservasi Aceh (HakA).

Farwiza juga berharap agar Gubernur Aceh terpilih segera memenuhi janjinya untuk merevisi Qanun Tata Ruang Perda Aceh dan memasukan Fungsi KEL yang sangat penting bagi masyarakat Aceh dan dilindungi oleh peraturan nasional sebagai Kawasan Strategis Nasional untuk fungsi lingkungannya, setelah sebelumnya KEL dihapuskan dari Qanun Aceh tahun 2013. Kerusakan yang terjadi di kawasan KEL akan semakin luas apabila KEL belum mendapatkan status perlindungan yang kuat dalam peraturan tata ruang daerah.

Selain PLTA Tampur, pemerintah Aceh juga berencana untuk membangun PLTA dengan kapasitas 180 MW di Kluet, Aceh Selatan. Proyek PLTA Kluet ini akan dijalankan oleh perusahaan konsorsium Indonesia-Tiongkok PT. Trinusa Energi Indonesia. “Kami sadar bahwa Aceh mempunyai masalah energi, tapi proyek energi yang difasilitasi oleh pemerintah Aceh dapat mengancam keberlangsungan lingkungan hidup. Karena beberapa proyek berlokasi di kawasan Hutan Lindung dan KEL. Aceh punya banyak lokasi alternatif yang mempunyai potensi energi yang lebih besar tanpa harus menghancurkan aset alam kita. Kami memohon kepada pak Gubernur Irwandi untuk memastikan masa depan Aceh tidak dirusak oleh perusahaan asing yang tidak peduli bila hutan milik masyarakat Aceh hancur”, M.Nur menambahkan.

Panut Hadisiswoyo, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari menjelaskan bahwa pembangunan waduk dan mega proyek PLTA tersebut akan menghancurkan hutan dataran rendah dan memusnahkan habitat satwa langka dunia karena pembangunan jaringan jalan dan jalur transmisi listrik yang diperlukan untuk proyek-proyek tersebut akan menembus kawasan hutan yang masih asli.

“Pembangunan jalan yang menembus hutan alami akan menjadi pendorong utama hilangnya habitat satwa dan menyebabkan terjadinya fragmentasi, kebakaran hutan, perburuan satwa, penebangan liar dan degradasi lingkungan lainnya. Apabila kondisi ancaman ini terus terjadi maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa Situs Warisan Dunia ini akan terus mengalami kehancuran,” ungkap Panut yang juga menjadi juru bicara masyarakat sipil pada pertemuan Komite Waisan Dunia di Polandia, Juli 2017 lalu.

Pada bulan September 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui surat Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem No. 559/2017 telah menyetujui permohonan pembangunan jalan tembus antara Kabupaten Karo dengan Kabupaten Langkat yang diajukan oleh Gubernur Sumatra Utara. Pembangunan jalan tersebut rencananya akan melalui kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, yang temasuk dalam daftar Warisan Dunia dalam Bahaya UNESCO.***

Untuk komentar lebih lanjut hubungi:

Rudi Putra
Pemenang penghargaan Goldman Environmental, Direktur Forum Konservasi Leuser
Email: [email protected] / +62 81375554546

Farwiza Farhan
Pemenang penghargaan Whitley Fund for Nature Award dan Future for Nature Award, Ketua Yayasan Hutan Alam Konservasi Aceh (HakA)
Email: [email protected]

Panut Hadisiswoyo
National Geographic Emerging Explorer, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari / Orangutan Information Centre (OIC)
Email: [email protected] / +62 81262198091

Muhammad Nur
Direktur Eksekutif WALHI Aceh
Email: [email protected] / +62 8126970494

Catatan:

Suplai​ ​Energi​ ​Aceh Kebutuhan energi listrik dari provinsi Aceh saat ini adalah 250 MW diperkirakan mencapai 260-360 MW pada kondisi puncak, 180 MW energi tersebut disalurkan dari provinsi Sumatera Utara. Untuk memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat, pemerintah provinsi Aceh telah meluncurkan beberapa proyek pembangkit listrik yang ditargetkan selesai pada tahun 2018: Pembangkit Listrik Tenaga Air Peusangan dengan kapasitas 84 MW, unit pembangkit listrik Nagan Raya 3 dan 4 dengan total kapasitas 200 MW, Krueng Raya Gas Pembangki Listrik Gas berkapasitas 50 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Jaboi Sabang dengan kapasitas 15 MW. Jika proyek ini berhasil maka pada 2018 Aceh akan memiliki kelebihan energi. Pemerintah Aceh harus memaksimalkan produksi energi dari pembangkit listrik yang ada dan bisa menghasilkan sekitar 400 MW surplus kebutuhan, atau mengembangkan alternatif program energi baru di luar kawasan hutan yang tidak memiliki dampak negatif pada ekosistem dan masyarakat lokal.

Daftar​ ​nama​ ​perusahaan​ ​pengembang​ ​mega​ ​proyek​ ​di​ Kawasan​ ​Ekosistem​ ​Leuser

PLTA​ ​Kluet​ ​–​ ​PT.​ ​Trinusa​ ​Energi​ ​Indonesia

Perusahaan konsorsium Indonesia-Tiongkok ini berencana membangung PLTA dengan kapasitas 180 MW di Aceh Selatan, menggenangi kawasan seluas 460 ha. PT. Trinusa Energi Indonesia telah mulai melakukan aktivitas deforestasi walaupun belum ada izin yang dikeluarkan. Operasi penegakan hukum telah dilakukan oleh pihak berwenang terkait kegiatan pembalakan liar di kawasan tersebut, namun informasi terakhir mengatakan bahwa perusahaan ini tetap melanjutkan aktivitas pembukaan lahan di lokasi.

Mega​ ​PLTA​ ​Tampur​ ​–​ ​PT.​ ​Kamirzu

Mega-proyek ini akan menenggelamkan 4,000 ha kawasan hutan dengan tinggi dam 173,5 meter yang menampung 697.4 juta m3 air dengan output energi 428 MW. Menurut analisis dari dokumen perencanaan PLTA tersebut, sepanjang 32 km jalan akan dibangun dengan memotong hutan lindung untuk mengakses situs proyek dan pembangunan transmisi. Desa di sekitar proyek akan direlokasi ke kawasan hutan lain, yang akan menstimulasi perambahan hutan untuk pembangunan desa dan pembukaan kebun warga. Proyek ini diumumkan pada tahun 2015 oleh PT Kamirzu. Pada tahun 2016, PT Kamirzu diakuisisi oleh PT Prosperity Indonesia, anak perusahaan asal Hongkong, Prosperity International Holdings HK.

PLTA​ ​Jambo​ ​Aye​ ​–​ ​PT.​ ​Daya​ ​Primamega​ ​Utama

PT. Daya Primamga Utama mendapatkan izin pada Juli 2016 untuk mengembangkan PLTA di Aceh Utara. Izin ini untuk membangun waduk, pembangkit tenaga listrik dan akses jalan sepanjang 4.3 km. Waduk tersebut akan menggenangi 3 kawasan lindung dataran rendah yang penting untuk keberlangsungan dan migrasi gajah sumatra.

By | 2017-11-09T10:21:01+00:00 9 November 2017|Lingkungan, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *