Penurunan Emisi Berbasis Pasar, Mengapa Tidak?

Oleh: Dicky Edwin Hindarto *

Saat ini, Indonesia bersama 194 negara lain di dunia telah menyepakati penurunan emisi di dunia melalui Perjanjian Paris (Paris Agreement/PA).  Paris Agreement ini sifatnya mengikat setiap negara untuk melakukan penurunan emisi di dunia dengan kontribusi sukarela tapi mengikat.  Sukarela adalah angka komitmennya, sedang mengikat karena setiap proposal komitmen yang disampaikan akan dianggap sebagai dokumen resmi negara.  Sampai sekarang 190 negara telah melakukan ratifikasi perjanjian ini.

Indonesia telah menyampaikan proposalnya dalam bentuk NDC (Nationally Determined Contribution) yang telah disampaikan pada saat perundingan perubahan iklim di Marrakech bulan Nopember 2016.  Target Indonesia yang telah disampaikan di dalam NDC adalah pengurangan emisi di tahun 2030 sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% apabila ada bantuan asing, dengan basis tahun yang diproyeksikan adalah 2010.  Target tersebut adalah seperti di bawah ini.

“Indonesia has committed to reduce unconditionally 29% of its greenhouse gasses emissions against the business as usual scenario by the year of 2030. The BAU scenario is projected approximately 2,869 GtCO2e in 2030 which is updated from the BAU scenario on the INDC due to current condition on energy policy development in particular in coal fired power plant” 1).

Sedangkan untuk target conditional adalah sebagai berikut.

“Indonesia could increase its contribution up to 41% reduction of emissions by 2030, subject to availability of international support for finance, technology transfer and development and capacity building” 1).

Target ini sangat ambisius karena adanya program 35.000 MW pembangkit listrik dari pemerintah yang 80% nya adalah batubara selain juga 29% akan dilakukan sendiri melalui APBN dan peran serta pemerintah daerah, swasta, dan BUMN tanpa bantuan internasional.  Rencana implementasi dari kegiatan pengurangan emisi ini masih harus dipertajam dan dianalisis, terutama untuk pendanaannya.

Target dan NDC Indonesia ini telah disetujui oleh presiden dan DPR RI, artinya sudah sah secara hukum untuk diimplementasikan.  Dibanding dengan negara lain, maka target Indonesia ini juga tergolong sangat ambisius, terutama karena belum dimasukkannya mekanisme pembiayaan berbasis pasar yang bisa digunakan untuk implementasinya.

Berbeda dengan dokumen INDC yang dikirimkan Indonesia bulan November 2015, salah satu perbedaan yang cukup signifikan adalah di dalam INDC masih ada kata market, sementara di NDC frasa itu sudah tidak ada lagi.

Secara kebijakan perubahan iklim, tidak adanya frasa penggunaan mekanisme pasar akan sangat berbeda implementasinya dengan negara yang memang merencanakan menggunakan mekanisme pasar, baik domestik maupun internasional, dalam pencapaian target pengurangan emisinya.

Pada saat penyampaian INDC tahun 2015 yang lalu, Indonesia termasuk 1 dari 98 negara yang merupakan “market friendly” atau negara yang mempunyai rencana untuk melakukan implementasi mekanisme berbasis pasar dalam pencapaian target pengurangan emisi nasional.

Saat ini jumlah negara-negara tersebut lebih banyak lagi, walau ada juga negara seperti Venezuela dan Bolivia, yang jelas-jelas tidak mau menggunakan mekanisme pasar dalam melakukan implementasi penurunan emisinya secara nasional.

Kegiatan berbasis pasar atau market based mechanism dalam perubahan iklim jamak dilakukan untuk melakukan optimalisasi dari biaya penurunan emisi. Market based mechanism atau pembiayaan berbasis mekanisme pasar bukanlah hal baru di Indonesia.  Saat ini di Indonesia telah dilakukan banyak hal terkait mekanisme berbasis pasar ini, baik di sektor energi maupun kehutanan dan industri. Di Indonesia, kegiatan ini bahkan sudah dilakukan sejak tahun 2005 sampai sekarang.

Dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement), istilah “market” untuk penyebutan market based mechanism atau mekanisme berbasis pasar tak lagi digunakan. Hanya ada penyebutan “mechanism” untuk menggabungkan berbagai aksi pengurangan emisi baik yang berbasis pasar, pajak karbon (carbon tax) dan transfer hasil kegiatan mitigasi (ITMO/International Transfer Mitigation Outcome).

Pertimbangan utama

Salah satu pertimbangan utama dari pemilihan implementasi kegiatan berbasis pasar atau mitigasi secara konvensional adalah biaya penurunan emisi per satuan CO2 yang akan dilakukan.  Istilah put a price on a carbon yang diartikan sebagai perhitungan biaya penurunan emisi pada kegiatan-kegiatan mitigasi menjadi salah satu sinyal utama dalam pemilihan kebijakan untuk menggunakan pendekatan mekanisme berbasis pasar.

Pada banyak negara, penurunan emisi yang mempunyai biaya tinggi atau lebih tinggi dari rata-rata penurunan emisi yang tercatat, akan dimasukkan dalam kegiatan berbasis pasar, sebaliknya yang lebih rendah akan dilakukan menggunakan unconditional atau tanpa bantuan pihak ketiga.

Dari target pengurangan emisi 834 juta ton CO2 atau setara dengan 29% unconditional scenario dan  1081 juta ton CO2 atau setara dengan 38% conditional scenario akan membutuhkan biaya mitigasi yang sangat besar.

Dari gambar di atas, maka terlihat langkah awal yang harus dilakukan adalah identifikasi biaya penurunan emisi per sektor berdasarkan jenis teknologi dan jenis kegiatan.  Identifikasi ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan studi yang sudah dilakukan sebelumnya atau implementasi dalam mekanisme berbasis pasar yang sudah membuahkan hasil.

Implementasi kebijakan dan peraturan untuk rendah karbon, standar nasional, pengarusutamaan pembangunan rendah karbon dalam pembangunan disertai pengawasan dan pemeriksaan yang tepat, serta kerjasama dengan semua parapihak di dalam negeri termasuk di sektor pendidikan, adalah kegiatan-kegiatan pengurangan emisi berbiaya rendah yang bisa dilakukan.

Untuk penurunan emisi berbiaya sedang, implementasi pasar karbon domestik, pajak karbon, maupun insentif dan subsidi pemerintah seperti feed in tariff dapat dilakukan.  Pengawasan dan pemeriksaan untuk kegiatan-kegiatan ini dibutuhkan lebih ketat.

Untuk penurunan emisi berbiaya tinggi, kegiatan mekanisme berbasis pasar yang dilakukan akan bisa diintegrasikan dengan dana hibah atau bantuan luar negeri.  Mekanisme berbasis pasar internasional ataupun perdagangan karbon antar negara dapat dilakukan, baik melalui bilateral, regional, maupun multilateral.

Contoh untuk mekanisme berbasis pasar di upaya-upaya penurunan emisi berbiaya tinggi ini antara lain adalah seperti skema JCM, VCS, atau pun skema berbasis pasar terbaru untuk penerbangan internasional, yaitu CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation).  Diharapkan mitigasi berbiaya mahal ini bisa tetap diimplementasikan dengan menggunakan pembiayaan pihak ketiga yang berminat untuk membeli karbon kreditnya.

Pengintegrasian mekanisme berbasis pasar yang sudah dan akan berjalan di dalam implementasi NDC dapat dilakukan secara bertahap dengan tanpa menghentikan atau mengurangi kegiatan mekanisme berbasis pasar yang sudah berjalan.  Regulasi dan aturan main, terutama untuk keterhubungan MRV antar skema, kemudian harus dibuat sebelum tahun 2020.

Sebaliknya untuk kegiatan-kegiatan non-pasar berbiaya rendah yang dibiayai oleh pemerintah, harus dibangun metodologi dan sistem MRV nya sehingga pengurangan emisi yang didapat benar-benar bisa dihitung dan berkelanjutan.  Teknologi dan model pembiayaan yang bisa direplikasi dari mekanisme berbasis pasar dapat diimplementasikan secara mandiri atau menggunakan pembiayaan dari pihak lain.

Integrasi kemudian harus dilakukan dengan tahapan-tahapan yang jelas dengan melibatkan semua parapihak yang terkait.  Harmonisasi antara kegiatan pasar dan non-pasar ini kemudian diharapkan akan dapat benar-benar mencapai target pengurangan emisi nasional.

Implementasi dalam NDC

Hingga saat ini ada 134 negara di dunia yang menyatakan akan melakukan implementasi mekanisme berbasis pasar dalam pencapaian target NDC, sementara dari jumlah tersebut 123 negara di dunia tertarik dan sebagian besar sedang dan telah, melakukan persiapan-persiapan untuk implementasi mekanisme berbasis pasar secara internasional.

Bukan hanya mekanisme pasar internasional yang kemudian menarik untuk diimplementasikan, tetapi juga regional dan domestik, termasuk juga bilateral antar negara.  Saat ini implementasi sudah dilakukan secara masif oleh berbagai negara di dunia.

Indonesia sedang dan telah melakukan berbagai kegiatan penurunan emisi berlandas mekanisme berbasis pasar.  Kegiatan implementasi CDM, VCS, Plan Vivo, Gold Standard, dan JCM, terbukti telah berkontribusi dalam penurunan emisi.  Total lebih dari 300 proyek dan 37 juta ton CO2 telah berhasil dilakukan dan dikurangi, dan sangat banyak sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari implementasi kegiatan tersebut.

Selain itu kegiatan-kegiatan mekanisme berbasis pasar ini juga membawa investasi, teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi parapihak yang terlibat.  CDM membawa banyak teknologi baru, sementara JCM juga menarik banyak investasi dari pihak swasta maupun dana hibah dari Jepang.

Indonesia dalam rencana pencapaian target pengurangan emisi, baik target yang conditional dan unconditional, mutlak harus memperhitungkan biaya pengurangan emisi per ton setara karbon.  Biaya pengurangan emisi ini bisa menjadi sinyal untuk menentukan mekanisme atau skema mana yang kemudian akan dipakai dalam kegiatan pengurangan emisi sehingga bukan hanya pemerintah yang menanggung semua biaya yang timbul.

Sangat layak dipertimbangkan berbagai kegiatan mekanisme berbasis pasar untuk dapat membantu mengurangi emisi GRK di Indonesia, terutama yang berbiaya sedang dan tinggi.  Mekanisme berbasis pasar domestik maupun internasional layak untuk diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan dan skala prioritas yang disepakati bersama.

–##–

* Dicky Edwin Hindarto adalah Head of Indonesia Joint Crediting Mechanism (JCM) Secretariat. JCM merupakan program kerjasama bilateral Indonesia-Jepang untuk mendukung kemitraan pertumbuhan ekonomi rendah karbon.

By | 2017-11-04T06:01:39+00:00 4 November 2017|Ekonomi, Iklim, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *