Tunjungan Plaza Menjadi Mall Hemat Energi

PT Pakuwon Jati bekerja sama dengan NTT Facilities dari Jepang memasang Chiller berefisiensi tinggi di Mall Tunjungan Plaza. 

Dengan pemasangan chiller berefisiensi tinggi, Mall Tunjungan Plaza per tahunnya dapat menghemat energi rata-rata sebesar 29% dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 996 tCO2.

Surabaya, 18 September 2017 – Konsumsi energi dunia semakin lama semakin meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan kemajuan ekonomi.  Konsumsi energi ini di Indonesia dan juga dunia, yang kecepatan pertumbuhan emisinya tertinggi di dunia, sehingga apabila sekarang terjadi banyak perubahan iklim di dunia, salah satu penyumbang terbesarnya adalah sektor energi.

Di Indonesia, salah satu pengguna energi yang pertumbuhannya paling signifikan adalah bangunan komersial, salah satunya adalah mall dan pusat perbelanjaan.  Pusat perbelanjaan membutuhkan energi, terutama listrik, untuk mengoperasikan AC, penerangan, alat transportasi vertikal, dan utilitas lain, termasuk peralatan kantor.  Secara kuantitas, penggunaan energi di pusat perbelanjaan yang paling besar adalah untuk AC, yaitu sekitar 60% dari total penggunaan energi.

Sejalan dengan meningkatnya harga energi dan kewajiban untuk menurunkan emisi secara nasional dan global, maka upaya untuk melakukan efisiensi energi menjadi wajib dilakukan.  Untuk pusat perbelanjaan, peningkatan efisiensi energi artinya juga mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kontribusi di dalam pengurangan emisi.

PT. Pakuwon Jati sebagai pemilik dan pengelola Tunjungan Plaza, bekerjasama dengan NTT Facilities Inc dari Jepang, memasang lima (5) centrifugal chiller berefisiensi tinggi yang menggantikan 6 chiller dan juga memasang delapan (8) cooling tower yang menggantikan 8 unit yang sebelumnya digunakan. Pemasangan teknologi ini menyebabkan penggunaan listrik PLN berkurang karena dapat menghemat energi sebesar rata-rata 11 % sehingga emisi gas rumah kaca dapat berkurang sampai 996 tCO2 tiap tahunnya.

Sejak teknologi ini telah terpasang selama 8 bulan, penghematan listrik telah mencapai 2,58 juta KWh atau setara dengan 3,18 milyar rupiah. Kerja sama pemasangan chiller berefisiensi tinggi ini sebagian dibiayai oleh Pemerintah Jepang melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) yang merupakan kerja sama bilateral antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia untuk melakukan kegiatan pertumbuhan rendah karbon.

“Pemasangan centrifugal chiller di mall kami merupakan bukti upaya nyata dari PT Pakuwon Jati untuk berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia maupun di dunia.” Kata Steviana Mecano selaku General Manager PT Pakuwon Jati.

“Bukan hanya menurunkan emisi, pemasangan centrifugal chiller ini secara langsung juga mengurangi pemakaian energi sampai sebesar 25 % dari chiller sebelumnya.  Ini merupakan capaian yang bisa diimplementasikan ke mall-mall kami yang lain” kata ibu Steviana

Sementara itu, Dicky Edwin Hindarto selaku Kepala Sekretariat JCM Indonesia mengatakan, “Teknologi yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan teknologi bersih yang dapat menghemat listrik. Diharapkan pemasangan-pemasangan teknologi rendah karbon seperti ini dapat ditiru oleh pusat-pusat perbelanjaan lain di Indonesia. Melalui skema JCM, para pebisnis dapat memanfaatkan insentif hibah dari Pemerintah Jepang untuk melakukan kegiatan-kegiatan mitigasi perubahan iklim”.

Dicky menambahkan,”Kegiatan pemasangan chiller AC berefisiensi tinggi di Tunjungan Plaza ini juga merupakan bagian dari implementasi kerjasama antara kota Surabaya dan kota Kitakyushu melalui city to city cooperation di bawah JCM.  Ke depan diharapkan kerjasama lebih banyak akan bisa diwujudkan”.

Jumlah total proyek di Indonesia yang dibiayai melalui skema JCM saat ini mencapai 29 proyek di berbagai sektor seperti: energi terbarukan, efisiensi energi di gedung, industri, dan manufaktur. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa Indonesia mampu melakukan upaya-upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Proyek-proyek dengan pendanaan dari skema JCM Indonesia selain mampu untuk menurunkan emisi nasional dan global juga diharapkan menjadi salah satu tolok ukur dalam upaya pencapaian kriteria pembangunan berkelanjutan di kegiatan mitigasi perubahan iklim. Hal ini karena setiap proyek JCM yang diterbitkan kredit karbonnya sebelumnya harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan yang dipersyaratkan.

Sejak ditandatanganinya kerjasama bilateral untuk pembangunan rendah karbon antara pemerintah Jepang dan Indonesia di tahun 2013, skema JCM berhasil menyalurkan lebih dari US$ 37 juta subsidi kepada pihak swasta Indonesia. Kontribusi dari pihak swasta Indonesia sampai saat ini mencapai lebih dari US$ 113 juta, sehingga total nilai investasi dalam skema JCM mencapai lebih dari US$ 150 juta. Sampai saat ini, terdapat 16 negara berkembang yang telah menandatangani perjanjian kerja sama skema JCM dengan Jepang, yaitu Indonesia, Vietnam, Mongolia, Palau, Meksiko, Maladewa, Thailand, Ethiopia, Kosta Rika, Laos, Kamboja, Kenya, Saudi Arabia, Chile, Myanmar, dan Bangladesh.

Pemerintah Indonesia dan Jepang selanjutnya berkomitmen untuk terus melanjutkan skema JCM dengan upaya peningkatan investasi, pengembangan berbagai instrumen teknis, serta peningkatan peran serta pihak swasta sebagai pelaku proyek maupun peran lainnya.

Melalui kerjasama dalam skema JCM, diharapkan Indonesia akan mampu untuk ikut berkontribusi dalam penurunan emisi nasional maupun global.

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:

Vionita – Website: http://jcm.ekon.go.id/id |email: [email protected]

By | 2017-09-18T19:25:32+00:00 18 September 2017|Energi, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *