Konservasi Energi di Instalasi Pengolahan Limbah Karet

Oleh: Dicky Edwin Hindarto*

Sudah pernah masuk ke pabrik pengolahan karet? Kalau belum, cobalah. Bau menyengat luar biasa dari pengolahannya yang berasal dari bau asam semut dan karet alam, bagi sebagian besar orang adalah bau uang! Karet alam adalah salah satu komoditi pertanian utama Indonesia sebelum era sawit bersimaharajalela!

Produksi karet Indonesia pernah menjadi nomor 2 di dunia setelah Malaysia. Dan walau pun baik Indonesia dan Malaysia sudah bukan 2 besar lagi, tapi khususnya di Indonesia, karet masih menjadi komoditi utama pertanian bagi ratusan ribu dan bahkan jutaan petani rakyat di daerah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan sebagian Jambi.

Karet sekarang sudah jadi anak tiri, dan anak emas negara ini sekarang adalah sawit! Keadaan ini diperparah lagi dengan turunnya harga minyak dunia. Harga karet ikut merosot tajam karena produsen ban mobil, peralatan, alat rumah tangga, dan lain-lain, akan lebih tetarik menggunakan karet sintetis!

Makanya di banyak daerah penghasil karet ekpnomi melambat. Di daerah-daerah ini juga konversi kebun karet untuk pemukiman dan sawit semakin meningkat!

Kondisi inilah salah satunya yang mendasari kenapa kami kemudian tertarik untuk membangun proyek JCM di industri karet alam. Penurunan emisi dan konsumsi energi kami harapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan pada gilirannya adalah kesejahteraan petani dan pengusahanya.

Di satu perusahaan pengolahan karet alam yang berlokasi 10 km dari pusat kota Palembang dan terletak di hilir Sungai Musi, kami melakukan implementasi konservasi energi pada pengolahan air limbahnya. Yang kami ganti adalah pompa-pompa kompresor dengan kompresor yang lebih hemat energi.

Di PT. Bumi Aneka Pratama ini telah kami implementasikan penggantian lebih dari 30 kompresor dengan efisiensi tinggi, sehingga per tahun mereka bisa menurunkan emisi sekitar 546 ton CO2, dengan energi yang bisa dihemat sekitar 25% dari kondisi awal.

Akibat lain adalah pusat pengolahan limbahnya menjadi lebih bersih, sehingga air yang kemudian dibuang ke sungai Musi pun menjadi air yang lebih bersih dan layak buang. Industri karet harus kita tolong, kalau tidak lagi-lagi kita akan hanya bisa dengar kalau pada satu masa kita pernah berjaya.

* Dicky Edwin Hindarto adalah aktivis perubahan iklim, penggiat Thamrin School of Climate Change and Sustainability, yang saat ini menjabat sebagai Head of Secretariat Joint Crediting Mechanism Indonesia (JCM Indonesia). 

By | 2017-09-16T13:36:48+00:00 16 September 2017|Energi, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *