JCM Tarik Investasi $150 Juta

Bogor, 12 Juli 2017 – Joint Crediting Mechanism (JCM) atau Mekanisme Kredit Bersama (MKB) kembali menggelar seminar implementasi proyek JCM di Indonesia, hari ini di Bogor. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang dan menjadi kegiatan tahunan sejak diresmikannya perjanjian kerjasama JCM pada tahun 2014. Pertemuan ini dilakukan dengan maksud untuk menyebarkan informasi mengenai hasil temuan dalam studi kelayakan dan capaian kegiatan JCM secara keseluruhan selama tahun berjalan.

Pada pertemuan ini dilaporkan 16 implementasi proyek JCM di Indonesia dan 2 studi kelayakan dalam skema JCM yang telah dilakukan hingga saat ini oleh entitas Jepang dan Indonesia kepada Pemerintah Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya. Diharapkan melalui pertemuan ini dapat diperoleh masukan untuk kelayakan implementasi. Seminar ini berlangsung selama 1 (satu) hari dengan peserta yang hadir berasal dari kementrian/lembaga Pemerintah Indonesia dan Jepang, perusahaan swasta Indonesia dan Jepang, berbagai Asosiasi Industri di Indonesia, beberapa lembaga donor di Indonesia, akademisi, dan berbagai media massa.

“Proyek JCM yang telah berjalan selama hampir 4 tahun ini, merupakan suatu bukti konkrit keterlibatan sektor industri baik dari pihak swasta, BUMN, atau BUMD dalam mendukung penurunan emisi karbon di Indonesia. Hingga saat ini terdapat 30 proyek yang berada dalam kesepakatan JCM. Salah satu contoh proyek JCM ini ialah proyek proyek pembangkitan listrik dari panas buang industri (Waste Heat Recovery Utilization) yang dilakukan di PT Semen Indonesia Tuban. Proyek ini merupakan proyek terbesar di JCM saat ini dengan nilai investasi mencapai 52 juta USD dan akan menghasilkan listrik sebesar 30,4 MW dengan penurunan emisi diperkirakan sebesar 122.000 tCO2/tahun.” kata Dicky Edwin Hindarto, Kepala Sekretariat Joint Crediting Mechanism (JCM) di Indonesia pada saat melakukan presentasi di Bogor, hari Rabu 12 Juli 2017 di IPB Convention Centre – Main Hall Botani Square Building.

“Lebih jauh tidak hanya pemerintah Indonesia saja yang mempunyai kewajiban untuk menurunkan tingkat emisi karbon itu. Namun, pihak swasta dan BUMN juga harus ikut aktif serta berupaya mengurangi emisi karbon dari masing-masing industri yang berjalan. Partisipan proyek JCM harus minimal terdiri dari dua pihak, yaitu perusahaan Indonesia dan perusahaan Jepang, yang harus melakukan implementasi kegiatan penurunan emisi”, tambah Dicky Edwin Hindarto.

Sementara itu Edwin Manangsang, Asisten Deputi bidang Kerjasama Mulitilateral dan Pembiayaan dan Kementrian Koordinasi dan Perekonomian dalam presentasinya mengatakan, “Hingga saat ini nilai total investasi atas pelaksaan Joint Credit Mechanism antara pemerintah Jepang dan Indonesia mencapai 150 juta USD dengan 113 juta USD berasal dari investasi pihak swasta Jepang dan Indonesia dan 37 juta USD merupakan subsidi yang disampaikan oleh pemerintah Jepang”.

“Skema JCM merupakan salah satu langkah penting dan nyata untuk mewujudkan komitmen Pemerintah Indonesia yang dicanangkan tahun 2009, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) nasional sebesar 26% dengan upaya sendiri, dan hingga 41% dengan bantuan internasional, pada tahun 2020, dihitung dari tingkat emisi jika Indonesia tidak melakukan upaya pengurangan emisi. Sektor swasta memegang peran penting dalam implementasi skema JCM” pungkas Edwin.

Tentang Joint Crediting Mechanism (JCM)

Sebagai salah satu usaha mengurangi emisi dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Pemerintah Indonesia dan Jepang menyepakati kerjasama Joint Crediting Mechanism (JCM) atau Mekanisme Kredit Bersama (MKB).

JCM mendorong kerjasama antara institusi Jepang dan Indonesia untuk berinvestasi dalam kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui insentif dari Pemerintah Jepang. Perjanjian Kerjasama Bilateral untuk Kemitraan Pertumbuhan Rendah Karbon antara Republik Indonesia dan Jepang telah ditandatangani oleh kedua negara melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia dan Menteri Luar Negeri Jepang pada Agustus 2013 secara terpisah.

Saat ini Jepang telah melakukan kerjasama bilateral dengan 17 negara berkembang di Afrika, Asia, Pasifik, dan Amerika Selatan. Pada skema JCM, Pemerintah Jepang memberikan bantuan pendanaan kepada negara partner dan akan saling berbagi hasil penurunan emisi gas rumah kaca.

Dasar kegiatan JCM adalah implementasi pembanguan rendah karbon melalui proyek-proyek yang disetujui oleh kedua negara dalam berbagai bidang seperti efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, penurunan emisi pada alih tata guna lahan, dan lain-lain.

Penurunan emisi yang dihasilkan oleh proyek rendah karbon dari proyek JCM akan diukur menggunakan metode Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi (Measurement, Reporting, and Verification/MRV) berstandar internasional yang disetujui kedua negara. Besar penurunan emisi (kredit karbon) akan dicatat dan dapat digunakan untuk memenuhi target penurunan emisi Indonesia dan Jepang sesuai pembagian yang disepakati.

Keterlibatan secara langsung berbagai pelaku usaha swasta di Indonesia di 30 proyek yang terdaftar sebagai proyek JCM merupakan suatu bukti konkrit bahwa pelaku swasta dapat turut serta dalam usaha penurunan emisi karbon Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia seperti yang termaktum pada Peraturan Presiden No 61 tahun 2011 yakni usaha nasional dalam Rencana Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Peraturan Presiden No.71 tahun 2011 pada Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional.

Perkembangan Kegiatan JCM Terkini di Indonesia

Jenis kegiatan utama JCM mencakup studi kelayakan (feasibility study/FS) dan implementasi proyek dengan insentif dari Pemerintah Jepang. Apabila dinilai layak untuk diimplementasikan dan disetujui oleh kedua negara, maka FS dapat dilanjutkan menjadi proyek implementasi. Dalam pelaksanaan proyek-proyek JCM yang telah berjalan selama hampir 4 tahun ini, proyek yang berada dalam lingkup kerjasama JCM kini berjumlah 30 proyek dengan 109 studi kelayakan.
Indonesia merupakan negara pertama pada lingkup proyek JCM yang melaporkan jumlah kredit emisi karbon yang diturunkan. Selain itu, Indonesia kini diketahui sebagai negara paling progresif dalam implementasi proyek JCM diantara 17 negara peserta kerjasama JCM dengan jumlah proyek terbanyak.

Berdasarkan 30 proyek yang berada dalam nauangan kerjasama JCM, diketahui terdapat 26 proyek yang tergolong model project (yang dibiayai Ministry of Environment) di Indonesia dan 4 demonstration project (yang dibiayai oleh Ministry of Energy, Trade, and Industry/METI). Sepanjang pelaksanaan implementasi proyek JCM di Indonesia, nilai total investasi 30 proyek JCM mencapai 150 juta USD dengan 113 juta USD berasal dari investasi pihak swasta Jepang dan Indonesia dan 37 juta USD merupakan subsidi yang disampaikan oleh pemerintah Jepang.

Sebagai bagian dari kegiatan low-carbon development atau pembangunan rendah karbon, proyek JCM wajib memasukkan unsur capacity building (peningkatan kapasitas) dan transfer teknologi kepada pihak Indonesia, baik berupa pembinaan usaha manufaktur, sumber daya manusia, maupun bentuk lainnya. Hal ini diminta untuk memberi nilai tambah pada manfaat kegiatan investasi hijau yang dilakukan.

Pemerintah Indonesia dan Jepang berkomitmen untuk terus melanjutkan skema JCM. Pemerintah Indonesia akan terus melakukan upaya peningkatan investasi, pengembangan berbagai instrument teknis, serta peningkatan peran serta pihak swasta sebagai pelaku proyek maupun peran lainnya.

Kontak:

Sekretariat JCM Indonesia
Website: http://jcm.ekon.go.id/id |email: [email protected]

By | 2017-07-13T08:29:01+00:00 12 July 2017|Ekonomi, Investasi, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *