Racun Emisi Kembali Ancam Pemudik

Sebanyak 11 orang meninggal dunia pada Mudik Lebaran 1437 H tahun lalu diduga akibat terutama keracunan emisi CO (Carbon Monoxide), selain akibat paparan parameter lain yang diemisikan oleh kendaraan bermotor. Angka ini terlalu banyak. Mereka yang meninggal dunia ini bukan karena kejadian tabrakan, terguling, tertabrak dan atau kecelakaan benturan fisik kendaraan bermotor, tetapi meninggal dunia oleh pembunuh tak tampak (invisible killer) akibat terpapar emisi kendaraan yang terjebak kemacetan selama perjalanan Mudik Lebaran, terutama pintu keluar Tol Brebes (Brexit).

Mudik dan Pencemaran Udara

Pencemaran udara masih mengancam Indonesia, khususnya kota-kota besar yang sarat dengan industri dan kendaraan bermotor. Tak terkecuali kawasan yang menjadi jalur mudik lebaran yang selama ini dikenal dengan tingkat kemacetannya yang sangat luar biasa seperti Jalan PANTURA Jawa maupun Jalur Selatan Jawa via Nagrek, juga amat sangat berisiko tinggi akan pencemaran udara, tidak saja mengancam para pemudik, tetapi juga bagi para pemukim di sekitar jalur mudik tersebut. Sumber pencemaran udara adalah terutama pembakaran bahan bakar fosil untuk mendapatkan energi untuk industri dan transportasi.

Bahan beracun yang terkandung di dalam polutan emisi gas buang kendaraan bermotor antara lain Particulate Matter (PM), Sulfur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Carbon Monoxide (CO), Ozone (O3), Hydro Carbon (HC), timbel (Pb), dll. Umumnya zat-zat polutan udara ini langsung mempengaruhi sistem pernafasan, pembuluh darah, sistem saraf, hati dan ginjal dengan gejala pusing-pusing, mual dengan penyakit/sakit ISPA, astma, tekanan darah tinggi, hingga pada penyakit dalam seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan pada sistem syaraf, penurunan kemampuan intelektual (IQ) anak-anak, kebrutalan pada remaja, keguguran, impotensi, jantung coroner (coronary artery dieses, kanker dan kematian dini.

Tentunya kita tidak berharap bahwa tragedi invisible killer yang membunuh para pemudik tersebut tidak terulang kembali di tahun ini. Invisible killer membunuh (terutama CO) tanpa terlihat, tidak berbau dan membuai si calon korban dengan rasa kantuk yang kemudian tertidur dan tidak pernah bangun kembali. Keadaan CO dan parameter pencemar lainnya menjadi invisible killer tentu perlu bebarapa kondisi yaitu tingkat, jenis, konsentrasi, ukuran dan komposisi kimiawi berbagai parameter pencemaran udara tersebut.

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya:

1. Iritasi pada saluran pernafasan. Hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan.
2. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar.
3. Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.
4. Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan.
5. Pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran pernafasan menjadi menyempit.
6. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir.

Akibat dari hal tersebut di atas, akan menyebabkan terjadinya kesulitan bernafas yang berujung tidak benda asing termasuk bakteri/mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan tetapi juga memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan serta barakibat kematian.

Solusi mencegah “the Invisible Killer”

Untuk mencegah terulangnya korban meninggal karena invisible killer, maka pertama, perlu diatur agar kemacetan selama prosesi perjalanan mudik dapat dicegah. Kedua, para pemudik harus mempersiapkan diri untuk mengelola perjalanannya sehingga tidak melulu berada di dalam mobil dan sekitarnya ketika terjadi kemacetan yang panjang dan lama, melainkan harus keluar dari mobil dan menjauh dari posisi mobil (30 – 50 m) setelah terlebih dahulu mematikan mesin mobil. Untuk menghindari terik matahari atau hujan, tentu harus mempersiapkan payung, ponco, tenda portable dll; ketika tidak didapati perumahan penduduk dan atau warung/restoran untuk berteduh dan beristirahat. Ketiga, mempersiapkan makanan siap santap yang ringkas tetapi cukup gizi.

Apapun cara terbaik adalah merencanakan perjalanan mudik secara lebih bijaksana misalnya menghindari penggunaan kendaraan pribadi dan lebih mengutamakan menggunakan angkutan umum masal (kereta api). Jika tak bisa dielakkan untuk menggunakan kendaraan pribadi, maka rencanakan sebaik mungkin perjalanan mudik tersebut secara matang dengan membuat rencana rute yang diprediksi bisa terhindar dari kemacetan parah. Jika tidak memungkinkan, maka sebaiknya urungkan dan atau tunda perjalanan mudik Anda di lain kesempatan.

Narahubung: Ahmad Safrudin (0816 897959)

—————————————

Indikasi Korban Invisible Killer Mudik Lebaran 1437H
Deskripsi korban meninggal akibat paparan polutan pencemaran udara saat prosesi mudik Lebaran 1437H:
1. Azizah (1) asal Kutoarjo. Korban meninggal karena keracunan CO (diagnosis dokter PUSKESMAS) setelah terjebak macet dalam mobil selama 6 jam dan kondisi AC menyala. Azizah meninggal dalam perjalanan ke puskesmas. Kejadian tanggal 3 Juli 2016.
2. Yuni Yati asal Magelang meninggal karena sakit berat dirujuk ke Rumah Sakit Bhakti Asih. Kejadian tanggal 3 Juli 2016. Sakit ini kemungkinan besar adalah sakit yang terkait dengan pernafasan sehingga tingginya konsentrasi pencemaran udara selama perjalanan mudik diduga yang memicu kematianya, yaitu melalui parameter pencemar CO dan PM.
3. Turinah (53) asal Kebumen meninggal di RM Minang Karangbale. Kejadian tanggal 3 Juli 2016 pukul 16.00 WIB. Menilik cepatnya meninggal di rumah makan, maka besar kemungkinan karena keracunan pencemar gas CO.
4. Sundari (58) asal Purworejo. Penyebab kematian suspect decompenstio cordis atau gagal jantung. Meninggal di bus Pahala Kencana yang terjebak macet. Kejadian pada 4 Juli 2016. Gejala gagal jantung ini kemungkinan besar korban memang telah menderita penyakit jantung cardio vascular sehingga ketika terpapar berbagai polutan pencemaran:
a. Yang mengiritasi salurang pernafasan (PM, SO2, NOx, HC) yang menyebabkan peningkatan produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan, rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan dan pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran pernafasan menjadi menyempit dan menyebabkan terhentinya pernafasan.
b. Yang beracun yaitu CO (Carbon Monoksida) yang meracuni darah sehingga darah gagal mengangkut O2 yang sangat dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh.
memicu kematiannya.
5. Susyani (36) asal Cibinong, Bogor, meninggal saat turun dari Bus Rosalia Indah karena pusing terjebak kemacetan di Jalan Karangbale, Larangan. Kejadian tanggal 4 Juli 2016 pukul 18.30 WIB. Gejala pusing ini mengindikasikan paparan gas CO.
6. Sariyem (45) asal Banyumas. Korban diturunkan dari bus travel di klinik dr Desy Wanacala karena pingsan kelelahan lalu meninggal. Jenazah diantar menggunakan mobil jenazah dari RSUD Soeselo Slawi ke Banyumas. Kejadian tanggal 4 Juli 2016. Gejala pingsan juga indikasi terkena paparan gas CO.
7. Suharyati (50). Kejadian tanggal 4 Juli pukul 23.00 WIB. Meninggal di tempat saat turun dari bus Sumber Alam karena terjebak kemacetan di Jalan Karangbale Larangan. Gejala tiba-tiba meninggal dunia adalah gejala terpapar CO pada konsentrasi tinggi.
8. Poniatun (46) asal Madureso, Kebumen. Kejadian tanggal 4 Juli 2016 pukul 20.00 WIB. Pemudik turun dari bus Zaki Trans di Rumah Makan Mustika Indah, Ciregol, Tonjong. Serupa dengan no 7, gejala tiba-tiba meninggal dunia adalah gejala terpapar CO pada konsentrasi tinggi.
9. Rizaldi Wibowo (17) asal Kendal meninggal di dalam bus. Kejadian tanggal 5 Juli 2016 pukul 06.30 WIB. Gejala meninggal dunia mendadak seolah sedang tidur adalah gejala terpapar CO pada konsentrasi tinggi selama perjalanan di dalam bus.
10. Suhartiningsih (49) asal Jakarta meninggal dalam mobil pribadi. Korban dibawa ke Puskesmas Larangan. Kejadian tanggal 5 Juli 2016 pukul 06.30 WIB. Kendaraan pribadi yang ber-AC bukan berarti bebas dari pencemaran tetapi justru konsentrasi pencemaran di kabin kendaraan adalah lebih tinggi, bisa 5 – 7 kali lipat dari udara terbuka. Jika korban tidak diawali dengan gejala sakit, besar kemungkinan karena keracunan gas CO. Namun jika diawali sakit terutama sakit pernafasan dan jantung maka penyebabnya bisa kombinasi seperti korban nomor 4.
11. Sumiatun (67) asal Pademangan Serpong, Tangerang, meninggal dunia di dalam bus. Lokasi di Dukuh Siramin, Desa Slatri. Dirujuk ke RSUD Brebes. Kejadian tanggal 5 Juli 2016. Meninggal mendadak diduga karena paparan gas CO.

By | 2017-06-20T19:09:23+00:00 20 June 2017|Kesehatan, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *