Ancaman bagi Lingkungan Hidup Dunia

Oleh: Hizbullah Arief *

Sikap jumud dan manipulatif menjadi ancaman yang lebih besar bagi lingkungan daripada perubahan iklim. Hal ini tercermin dari sikap negara adidaya Amerika Serikat (AS) yang diwakili secara picik oleh presidennya Donald Trump yang minggu lalu, Kamis, 1 Juni 2017, menarik diri dari Perjanjian Paris yang sudah ditandatangani oleh 194 negara dan diratifikasi oleh 147 negara. Bersama AS hanya Suriah dan Nikaragua yang tidak menandatangani Perjanjian Paris. Trump yang dalam kampanyenya menyebut perubahan iklim sebagai hoax benar-benar membuktikan janji kampanyenya untuk keluar dari Perjanjian Paris.

Segala umpatan, kecaman dari level yang sopan hingga sarkastis atas tindakan Trump bisa dibaca di berbagai media. Media ternama dari Inggris, BBC menyatakan dunia menangis dan tidak tertawa atas keputusan Trump. Sementara The New York Times menyebut Amerika Serikat mengisolir dirinya sendiri saat keluar dari Perjanjian Paris. Banyak yang menyebut keputusan Trump sebagai tindakan yang tidak bermoral.

Amerika Serikat saat ini adalah negara penghasil polusi terbesar kedua di dunia setelah China. Sepanjang masa, masyarakat AS adalah penduduk dengan jejak karbon tertinggi. Kegemaran mereka terhadap mobil bertenaga besar, yang boros bahan bakar, rumah mewah dengan pendingin atau pemanas udara raksasa, dan gaya hidup mewah dengan pola konsumsi yang tidak ramah lingkungan, memicu krisis kemanusiaan di seluruh dunia.

Benang merahnya adalah pada kegagalan administrasi Trump berkiblat pada ilmu pengetahuan yang ironisnya menjadi landasan inovasi dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Kebijakan Trump bertolak belakang dengan sikap ilmuwan AS mengenai perubahan iklim.

Dari 12.944.000 ilmuwan yang ada di Amerika Serikat, hanya 0,24% yang menolak konsensus bahwa perubahan iklim disebabkan oleh perilaku manusia. Manusia menghasilkan gas rumah kaca yang menyebabkan suhu matahari terperangkap dalam atmosfer bumi, yang menyebabkan perubahan iklim, kenaikan suhu bumi dan cuaca ekstrem. Data ini dikirimkan oleh Ivanka Majic melalui akunnya di Twitter @ivanka ke presiden terpilih Amerika Serikat. “Belajar lebih banyak soal perubahan iklim,” begitu pesannya.

Lebih jauh lagi, ketidakpercayaan atas ilmu pengetahuan ini dilandasi oleh kepentingan sesaat; kekuatan lobi perusahaan-perusahaan energi fosil untuk mengamankan investasi mereka. Trump sudah lama tunduk atas lobi ini. Jabatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ia serahkan pada bekas eksekutif perusahaan minyak terbesar di dunia ExxonMobil, Rex Tillerson. Sementara para penasehatnya banyak datang dari kalangan yang skeptis perubahan iklim.

Kepentingan sesaat ini mengeksploitasi kesenjangan pengetahuan dan kesadaran penduduk Amerika Serikat atas perubahan iklim di tengah kondisi perekonomian yang menurun.

Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2012 menyebutkan, 57% penduduk Amerika Serikat masih menentang atau tidak mengetahui posisi ilmuwan terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu penyebabnya adalah kampanye yang ditujukan untuk menimbulkan kebingungan publik mengenai sikap dan hasil penelitian ilmuwan terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Kampanye-kampanye ini tidak lain didukung oleh perusahaan-perusahaan yang skeptis terhadap perubahan iklim, terutama perusahaan energi fosil.

Jika ditelusuri, salah satu kampanye tersebut adalah kampanye yang digelar oleh Western Fuels Association pada 1991. Kampanye berbiaya $510.000 ini berupaya memengaruhi persepsi publik agar mereka menganggap bahwa pemanasan global bukan sesuatu yang nyata dan hanya sebuah teori. Caranya adalah dengan memanfaatkan pendapat ilmuwan yang menentang teori pemanasan global dan perubahan iklim.

Situasi ini diperparah oleh sikap media massa terhadap isu perubahan iklim. Tidak hanya media massa di AS, media di Inggris juga dinilai gagal memberikan informasi yang berimbang tentang pemanasan global dan perubahan iklim sehingga pendapat minoritas lah yang mengemuka. Pemberitaan yang tidak seimbang ini terutama dipraktikkan oleh tabloid-tabloid di Inggris selama periode 2000-2009.

Upaya untuk mengurangi kebingungan publik terhadap posisi ilmuwan dalam menyikapi pemanasan global dan perubahan iklim salah satunya dilakukan pada 2013. Penelitian ini diterbitkan pada Rabu (15/5/2013), dalam jurnal Environmental Research Letters.

Dalam penelitian ini, tim peneliti lintas negara dari Australia, Kanada, Inggris dan Amerika Serikat mensurvei 11.994 hasil penelitian akademis oleh 29.083 ilmuwan dari seluruh dunia pada periode 1991-2011. Hasilnya, tim peneliti menemukan, 97,1% hasil penelitian ilmiah mendukung teori bahwa pemanasan global dipicu oleh aktivitas manusia. “Penelitian ini adalah penelitian paling komprehensif guna menghitung konsensus ilmiah (mengenai pemanasan global dan perubahan iklim) dalam dua dekade terakhir,” ujar John Cook, peneliti dari Global Change Institute, University of Queensland, Australia yang memimpin tim ini.

Temuan ini sekaligus mematahkan pendapat pihak-pihak yang skeptis terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Temuan ini diharapkan mampu meningkatkan dukungan masyarakat terhadap kebijakan mengatasi krisis pemanasan global dan perubahan iklim.

Namun dari tahun 2013 hingga Trump terpilih menjadi presiden pada 2016, kesenjangan pengetahuan atas perubahan iklim dan maraknya berita dan kampanye oleh para climate sceptics terus menghiasi media massa terutama media-media sosial alternatif seperti facebook dan Twitter. Berita-berita ini bercampur dalam masa-masa tiga tahun penuh berita hoax yang juga melanda media-media alternatif Tanah Air.

Sehingga ketika Trump terpilih sebagai presiden, kemenangan sikap jumud atas ilmu pengetahuan, pemikiran ilmiah, perilaku kritis dan obyektif seakan mengkristal menjadi satu pembangkangan terhadap ilmu pengetahuan. Hasilnya, seorang presiden yang saat ini mem-bully dunia dan rakyatnya untuk menciptakan kerusakan yang tak terbayangkan bagi generasi mendatang.

Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap kebijakan Trump sudah mulai berjalan. Beberapa kota di AS seperti New York, Chicago dan Pittsburg jelas-jelas menolak kebijakan Trump dan terus beraksi dengan agenda perubahan iklim. Juga negara maju lain yang dipimpin oleh Jerman, Perancis dan China. Indonesia secara resmi menyatakan bergeming dengan kebijakan Trump dan akan terus melaksanakan agenda perubahan iklim sebagaimana diamanahkan oleh Presiden Jokowi.

Aksi pembangkangan Trump terhadap bukti ilmiah juga dipastikan akan menciptakan pembangkangan-pembangkangan baru. Lembaga dan jaringan aktivis perubahan iklim dunia seperti 350.org dan Greenpeace akan terus berkampanye meningkatkan kesadaran publik atas dampak perubahan iklim.

Membangkitkan kesadaran terhadap lingkungan dan perubahan iklim memang memerlukan waktu untuk terwujud. Namun perjuangan ini menjadi perjuangan yang layak saat kita masih diberi kesempatan untuk bangun di pagi hari, menyaksikan wajah anak-anak kita, generasi mendatang bumi ini. Mewariskan bumi yang aman, sehat dan lestari adalah warisan terbaik. Hanya kita yang bisa melakukannya. Selamat Hari Lingkungan Hidup Dunia 2017. Mari bertadabur alam. Let’s connect with nature. Mari merawat bumi ini.

–##–

* Hizbullah Arief adalah jurnalis pendiri Hijauku.com – Situs Hijau Indonesia.

By | 2017-06-06T04:00:12+00:00 5 June 2017|Komunitas, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment