Kerusakan Hutan Hambat Pembangunan

Wilayah Asia Pasifik berisiko tertinggal dalam mencapai target pembangunan akibat kerusakan hutan. Hal ini disampaikan oleh Patrick Durst, pejabat senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk wilayah Asia dan Pasifik.

“Hutan berperan penting dalam pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDG), namun hutan terus terdegradasi dengan tingkat kerusakan mencapai 3,3 juta hektar per tahun,” ujar Patrick dalam berita PBB.

Hutan saat ini menutupi sepertiga permukaan bumi, menyediakan berbagai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan. Hutan dan pepohonan melindungi semua makhluk hidup melalui berbagai macam cara.

Hutan menyediakan udara bersih untuk bernafas dan air yang aman untuk diminum. Hutan juga menjadi habibat lebih dari 80% tumbuhan dan hewan darat, menjadi penjaga keanekaragaman hayati dan melindungi bumi dari perubahan iklim.

Jika hutan terus dirusak, negara-negara di Asia Pasifik akan terancam gagal mencapai target pembangunan berkelanjutan pada 2030, tenggat waktu pencapaian SDG. “Di wilayah ini, hutan terus dialihgunakan menjadi lahan pertanian, dirusak dan diganti dengan infrastruktur buatan manusia, seperti perumahan, pertambangan dan alih guna lahan yang lain. Kebakaran hutan juga terus menghantui wilayah ini,” ujar Patrick.

Saat diformulasikan pada tahun 2015, tujuan pembangunan berkelanjutan dengan jelas mencantumkan upaya perlindungan dan restorasi hutan serta mempromosikan pengelolaan hutan yang lestari. Hal ini berarti menghentikan kerusakan hutan dan keanekaragaman hayati dan membalik kondisi tersebut.

Data FAO menunjukkan, sepertiga kota-kota besar dunia mendapatkan air minum dari wilayah berhutan. Sehingga hutan dan pepohonan adalah penunjang kehidupan.

Nina Brandstrup, wakil FAO di Sri Lanka, menggarisbawahi peran hutan dalam menghapuskan kemiskinan dan kelaparan yang menjadi target nomor satu dan nokor dua dari pembangunan berkelanjutan. “Sebanyak 1,3 miliar penduduk dunia adalah ‘orang hutan’, yang menggantungkan hidup dan pendapatan mereka dari hutan,” ujar Nina.

Sementara 28% pendapatan rumah tangga mereka yang tinggal di sekitar hutan berasal dari produk-produk hutan dan lingkungan. Jika dunia ingin menghapuskan kemiskinan, kesehatan hutan harus dijaga. Kita juga harus melibatkan mereka secara langsung,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com

By | 2017-05-16T16:25:44+00:00 16 May 2017|Berita, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *