Kado Akhir Tahun yang Tidak Tumbuh

Lokasi satu juta pohon - Alfred SitorusOleh: Alfred Sitorus*

Pada hari Minggu, tanggal 21 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo mengunjungi Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir Sumatera Utara. Sebagaimana diberitakan oleh Kompas, Presiden Jokowi hadir dalam acara penanaman pohon penghijauan yang diikuti oleh ratusan pelajar dan pramuka. “Saya titip, saya ingin kawasan Danau Toba hijau lagi,” ujar Presiden Jokowi.

Jokowi menyatakan, hingga akhir Desember 2016 ini, pemerintah akan menanam sejuta pohon. Ia meminta agar pohon yang sudah ditanam dirawat dan diawasi agar benar-benar tumbuh menjadi pohon yang besar. “Saya ingin tumbuh semua jangan sampai ditanam sejuta yang tumbuh hanya 100 pohon,” katanya. Pemerintah melalui Kementerian lingkungan hidup dan Kehutanan memberikan bantuan pompa air untuk pemeliharaan tanaman itu.

Bibit kering meranggas - Alfred SitorusKhusus di Desa Tomok, area yang dihijaukan mencapai 150 hektar yang akan menjadi kebun raya. Pemerintah selain menanam tanaman buah, juga menanam tanaman keras di areal tersebut. “Saya berharap nantinya kebun raya ini menjadi tempat penelitian yang baik, sekali lagi agar dirawat dan dipelihara sehingga pohon-pohon ini tumbuh,” katanya sebagaimana diberitakan oleh Kompas.

Tidak hanya di Kebun Raya Samosir, Desa Tomok, pemerintah juga menanam ribuan bibit di Desa Parparean, Kecamatan Porsea yang letaknya di pinggir Danau Toba serta di kawasan Bandara Silangit di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Upaya Presiden Jokowi ini patut diapresiasi. Dari paparan Rencana Aksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Kawasan Danau Toba terungkap, semua rencana ini adalah bagian dari upaya menanam satu juta pohon di Daerah Tangkapan Air Danau Toba yang masuk dalam Daerah Aliran Sungai Asahan. Luas DTA Danau Toba mencapai 266.890 Ha dan secara administratif masuk di wilayah Kabupaten Simalungun, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir.

Jokowi patut prihatin. Sebanyak 45% luas wilayah DTA Danau Toba masuk dalam kategori kritis dan sangat kritis. Sementara lebih dari 21% wilayah Daerah Aliran Sungai Asahan masuk dalam kategori kritis dan sangat kritis. Menurut paparan Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, wilayah DAS Asahan yang tererosi berat hingga sangat berat mencapai luas 192.400 hektar. Di beberapa tempat terjadi erosi parit dan longsor. Sekitar 116.000 hektar lahan di wilayah ini juga perlu segera direhabilitasi. Berdasarkan Berdasarkan Permenhut P.60/Menhut-II/2014, klasifikasi DAS termasuk kategori DAS yang dipulihkan.

Gersang dan kering - Alfred SitorusNamun semangat Jokowi untuk memulihkan DAS Asahan dan DTA Danau Toba, dalam pelaksanaannya masih jauh panggang dari api. Keinginan Jokowi agar bibit pohon yang telah ditanam dijaga hingga tumbuh dewasa tidak terpenuhi. Berdasarkan pengamatan penulis yang asli putra daerah ini (saya lahir di Porsea), awal Desember lalu, bibit-bibit yang ditanam di wilayah ini sudah banyak yang mati, sementara wilayah penanaman juga gersang dan tidak terurus.

Saya khawatir dengan kondisi DTA Danau Toba. Namun saya lebih khawatir lagi melihat perkembangan bibit-bibit yang sudah ditanam. Setiap pulang kampung, saya selalu melewati wilayah Parparean, Porsea. Walaupun sudah turun hujan, bibit-bibit yang mati belum juga disulam. Akibatnya semakin banyak bibit tanaman pohon yang layu dan mati.
Sementara itu, semak belukar semakin banyak dan tanaman jagung semakin membesar.

Sebelum penanaman pohon oleh Presiden Jokowi, penanaman bibit pohon sudah dilakukan beberapa kali di wilayah ini pada masa lampau. Saya melihat sendiri bagaimana bibit-bibit tersebut dirusak, ditebangi, dicabut, ditraktor dan ada juga yang dibakar.

Pokok masalahnya, ternyata status lahan seluruh wilayah Kebun Raya Samosir yang mencapai 100 hektar masih bermasalah. Masih terdapat konflik lahan dimana wilayah tersebut diklaim milik warga setempat. Bahkan dari pengamatan yang kami lakukan, di dalam lokasi Kebun Raya Samosir terdapat bekas penebangan pohon pinus, bekas pembakaran dan kegiatan membangun gubuk baru serta menanam pohon kopi.

Tidak jauh dari pondok kerja petugas Kebun Raya Samosir, sekitar 75 meter, juga dibangun gubuk baru oleh penduduk dari warga setempat yang mengolah lahan di lokasi Kebun Raya Samosir. Upaya reboisasi dan pemulihan lahan yang terdegradasi harus melibatkan komunitas lokal dan masyarakat adat. Hari ini, Jum’at 30 Desember, Presiden Jokowi melaksanakan pengukuhan hutan adat. Matinya bibit-bibit pohon di Porsea dan tidak dihormatinya status Kebun Raya Samosir menjadi cerminan niat baik pemerintah masih jauh dari terpenuhi.

Yang terakhir, siapa yang bertanggung jawab terhadap semua hal ini? Terutama tentang kegagalan tumbuh bibit pohon yang ditanam oleh seorang presiden dengan biaya seremonial yang pasti sangat besar? Bagaimana pertanggungjawaban dana APBN untuk program menanam pohon yang gagal, bermasalah? Apa hukuman atau penalti bagi pihak yang bertanggung jawab mempermalukan simbol negara, Presiden RI, yang notabene adalah seorang Sarjana Kehutanan? Tugas bersama untuk memastikan aksi reboisasi tidak jauh panggang dari api.

* Alfred Sitorus adalah putra asli Porsea.

By | 2017-08-09T09:01:05+00:00 30 December 2016|Komunitas, Lingkungan, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *