2016 Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

Record breaking temperature 2016 - NASATahun 2016 dinobatkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Apa dampaknya bagi Indonesia?

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menobatkan 2016 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Suhu pada tahun ini tercatat 1,2° Celsius lebih tinggi dibanding suhu pada masa pra-industri. Dari Januari hingga September 2016 tercatat suhu telah naik 0,88° Celsius (1,58°F) di atas rata-rata suhu global (14°C) dibanding periode 1961-1990 yang dijadikan dasar referensi WMO.

WMO menyatakan, fenomena El Niño di awal tahun dan kenaikan polusi gas rumah kaca yang menembus 400 PPM, menjadi penyebab terciptanya rekor kenaikan suhu bumi. Konsekuensi lain dari terciptanya rekor kenaikan suhu ini adalah menipisnya lapisan es di benua Arktika terutama pada awal tahun 2016, maraknya kematian akibat pemutihan (bleaching) terumbu karang dan kenaikan permukaan air laut di atas rata-rata.

Pemanasan global juga memicu cuaca ekstrem. Topan badai Matthew menjadi peristiwa cuaca paling mematikan tahun ini. Topan ini menjadi bencana paling buruk di Haiti sejak gempa bumi pada 2010. Sepanjang tahun 2016, fenomena cuaca ekstrem juga memicu kekeringan, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor dan bencana alam di berbagai penjuru dunia.

Bencana di Indonesia

Menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tahun 2016 adalah tahun bencana. Berdasarkan data Januari hingga November 2016 BNPB mencatat telah terjadi 1.985 kejadian bencana di Tanah Air. “Jumlah kejadian bencana sebanyak 1.985 bencana ini adalah rekor tertinggi yang pernah terjadi sejak 10 tahun terakhir,” ujar Sutopo dalam siaran pers BNPB. Sebagai perbandingan, jumlah kejadian bencana dalam 10 tahun terakhir adalah tahun 2007 (816 bencana), 2008 (1.073), 2009 (1.246), 2010 (1.941), 2011 (1.633), 2012 (1.811), 2013 (1.674), 2014 (1.967), dan 2015 (1.677).

Jumlah bencana menurut BNPB masih akan terus bertambah karena curah hujan akan terus meningkat selama bulan November hingga Desember sehingga kejadian banjir, longsor dan puting beliung diprediksi akan terus terjadi di berbagai wilayah. “Selain itu belum semua kejadian bencana yang ada di BPBD belum dilaporkan ke BNPB,” ujar Sutopo. Bencana selama tahun 2016 menyebabkan 375 orang tewas, 383 jiwa luka-luka, 2,52 juta jiwa menderita dan mengungsi, dan lebih dari 34 ribu rumah rusak. Dampak bencana ini diprediksi akan terus bertambah.

Dari 1.985 bencana, bencana banjir adalah yang paling banyak terjadi yaitu 659 kejadian. Selanjutnya berturut-turut adalah puting beliung 572 kejadian, longsor 485, kebakaran hutan dan lahan 178, kombinasi banjir dan longsor 53, gelombang pasang dan abrasi 20, gempa bumi 11, dan erupsi gunung api 7 kejadian. Bencana longsor merupakan bencana yang menimbulkan korban tewas paling banyak yaitu 161 jiwa. Sedangkan banjir menyebabkan 136 jiwa tewas, kombinasi banjir dan longsor 46 tewas, puting beliung 20 jiwa, erupsi gunung api 7 jiwa, gempa bumi 3 jiwa, dan kebakaran hutan dan lahan 2 jiwa.

Tingginya curah hujan akibat pengaruh dari La Nina lemah, menguatnya Dipole Mode negatif dan hangatnya perairan muka air laut di sekitar Indonesia telah menyebabkan meningkatnya banjir, longsor dan puting beliung. Selain itu, luasnya daerah aliran sungai yang kritis, kerusakan lingkungan, degradasi sungai, tingginya kerentanan dan masih terbatasnya mitigasi struktural dan non struktural di masyarakat menyebabkan bencana terus meningkat.

Jutaan penduduk terancam bahaya

Terdapat jutaan penduduk Indonesia yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana. BNPN menyebutkan, terdapat 64 juta penduduk di Tanah Air yang terpapar bahaya banjir dengan intensitas sedang hingga tinggi. Begitu juga dengan longsor, ada 40,9 juta jiwa masyarakat yang terpapar bahaya longsor dalam skala sedang hingga tinggi. “Mereka tinggal di zona merah dengan kemampuan mitigasi yang masih terbatas sehingga saat terjadi hujan sebagai pemicu maka terjadi bencana,” tutur Sutopo.

Beberapa daerah yang sebelumnya jarang terjadi bencana, saat ini mudah terjadi bencana. Misal Kota Bandung yang secara beruntun mengalami bencana. Pada Minggu (23/11/2016) Kota Bandung kembali direndam banjir karena hujan berintensitas tinggi dan drainase perkotaan yang sudah tidak mampu menampung aliran permukaan. Hujan es dan angin kencang terjadi di beberapa tempat sehingga menyebabkan pohon tumbang. Stasiun kereta api di Kota Bandung juga direndam banjir. Jakarta yang makin rentan oleh banjir dan puting beliung.

BNPB menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung. “Hujan diprediksi akan terus meningkat hingga puncaknya pada Januari 2017 mendatang. Sesuai dengan polanya, Januari merupakan puncak curah hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia. Pola bencana juga menunjukkan bahwa Januari adalah bulan paling banyak bencana di Indonesia,” pungkas Sutopo.

Redaksi Hijauku.com

By | 2016-11-15T09:15:58+00:00 15 November 2016|Berita, Iklim, Komunitas, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *