Apple Gadget Terhijau Versi Greenpeace

Apple logo - victoria white2010Apple menjadi gadget terhijau versi Greenpeace, namun masih banyak tantangan bagi sektor elektronik untuk mewujudkan ‘gadget hijau’.

Jakarta/Amsterdam, 3 September – Laporan terbaru Greenpeace menunjukkan bahwa Apple saat ini menjadi yang terbaik di sektor elektronik dalam upaya mengatasi dampak lingkungan, tetapi secara keseluruhan masih banyak hal yang harus dilakukan sektor elektronik untuk mengurangi jejak karbon dalam proses produksi serta memastikan masa depan bebas bahan beracun.

Laporan Green Gadgets: Designing the future (Gadget Hijau: Mendesain Masa Depan), menilai kemajuan yang diraih industri elektronik dalam mengatasi masalah penting lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan dan penghilangan bahan-bahan kimia berbahaya. Laporan ini juga menggarisbawahi tantangan-tantangan lestari yang dihadapi oleh pelaku bisnis di sektor ini.

Dengan tercapainya tingkat penjualan tertinggi gadget-gadget populer yang mencapai 2,5 miliar produk pada 2014 [1], laporan ini menyerukan pentingnya perusahaan global seperti Apple, Samsung dan Dell untuk melakukan aksi segera guna menanggulangi krisis lingkungan yang juga meningkat.

Jurukampanye Toxic Greenpeace Indonesia, Ahmad Ashov Birry mengatakan:

“Apple telah memperlihatkan secercah kemungkinan, menjadi pemimpin industri dalam penghapusan bahan-bahan kimia terburuk, dan mulai menyadari pentingnya mengatasi dampak besar produksi barang-barang elektronik kepada planet kita. Tetapi ini hanya permulaan – pemain besar seperti Apple dan Samsung harus meningkatkan upaya dan membantu kita semua dengan memproduksi produk-produk lestari dan menciptakan masa depan hijau.”

Laporan ini berfokus pada tiga kriteria kunci: penghapusan substansi-substansi berbahaya, peningkatan penggunaan energi terbarukan dan penciptaan rantai suplai yang ramah lingkungan. Lebih dari 50% pasar telepon genggam, dikuasai oleh Samsung, Apple dan Nokia, saat ini sudah bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya: Polyvinylchloride (PVC) dan Brominated flame retardants (BFR). [2] Meski demikian, Apple masih menjadi satu-satunya perusahaan yang sudah menghapuskan penggunaan substansi ini di dalam seluruh produk mereka dan baru-baru ini mengumumkan langkah lanjutan yang menjanjikan penghapusan bahan-bahan kimia dalam produksinya. [3]

Samsung, perusahaan elektronik terbesar dunia, gagal untuk memenuhi target penghapusan bahan kimianya untuk produk selain telepon genggam, menyusul Dell dan perusahaan lain yang juga gagal memenuhi komitmen publik mereka. Sementara itu, para pemain baru di pasar tablet dan telepon genggam juga masih tertinggal di belakang, dengan Microsoft yang hanya mengeluarkan komitmen lemah serta Amazon yang gagal membuka informasi apa pun kepada publik.

Transparansi rantai suplai dan produksi yang lebih kuat diidentifikasi sebagai langkah penting selanjutnya yang harus dilakukan perusahaan guna memfasilitasi penghapusan seluruh bahan kimia berbahaya dari seluruh rantai suplai. Sektor lain, seperti sektor tekstil, telah memperlihatkan bahwa hal itu dimungkinkan, dimana mereka sudah punya skema yang kredibel dan aplikabel yang bisa diikuti oleh perusahaan elektronik. Dua puluh perusahaan tekstil global kini sudah mengeluarkan komitmen ‘Detox’ –menghapuskan seluruh bahan kimia berbahaya pada 2020 – dan mayoritas mereka juga mengimplementasikan komitmen ini pada sentra produksi mereka di tempat lain seperti Cina.[4]

Secara keseluruhan, perusahaan elektronik masih belum berhasil mengatasi masalah jejak karbon mereka. Produksi telepon, laptop dan perangkat lain memerlukan energi besar dan kini terkonsentrasi di Asia Timur dimana batubara masih mendominasi. Beberapa perusahaan, seperti Lenovo dan Huawei, telah melakukan langkah awal dengan instalasi panel surya kecil di pabrik-pabrik di China, sementara Apple berencana membangun pabrik yang seratus persen bertenaga energi terbarukan untuk memproduksi layar iPhone. Meski demikian, hanya target ambisius untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan di seluruh rantai suplai global yang bisa mengurangi jejak karbon dari produksi gadget ini.

“Sebagai kawah inovasi, industri elektronik menjadi tempat yang bagus untuk memperlihatkan bagaimana telepon, laptop dan TV kita seharusnya dibuat dan dijual. Perusahaan-perusahaan itu harus bisa mendesain demi masa depan. Barang elektronik bebas bahan beracun, tahan lama dan dibuat menggunakan energi terbarukan bukanlah mimpi, tetapi bisa jadi kenyataan,” pungkas Ashov.

Kontak

Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Toxic Greenpeace Indonesia, 08111757246

Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 0819888829

Catatan Redaksi

[1] Green Gadgets: Designing the future (Gadget Hijau: Mendesai Masa Depan) : http://www.greenpeace.org/green-gadgets Perusahaan-perusahaan yang ada di laporan ini diantaranya: Acer, Apple, Dell, HCL, HP, Lenovo,LGE, Nokia, Panasonic, Philips, RIM, Samsung, Sharp, Sony, Toshiba, Wipro

Untuk informasi level konsumsi, silahkan lihat: http://www.gartner.com/newsroom/id/2692318

[2] BFR merujuk kepada bahan-bahan kimia brominated yang dibubuhkan kepada material guna menghambat pengapian dan memperlambat laju pembakaran. Beberapa BFR yang dikenal sebagai senyawa beracun, sangat sulit terurai dan mampu berakumulasi secara biologis (dalam tubuh hewan dan manusia. PVC adalah plastik terklorinasi, digunakan di industri elektronik kebanyakan sebagai insulator dan pembungkus kablek elektrik. PVC menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan dalam seluruh usia pakainya.

[3] Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi http://www.greenpeace.org/international/en/news/Blogs/makingwaves/apple-detox/blog/50293/

[4] Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi: http://www.greenpeace.org/international/en/campaigns/toxics/water/detox/

By | 2017-01-03T07:37:13+00:00 3 September 2014|Gaya Hidup, Komunitas, Lingkungan, Produk, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *