Sampah Padat di Kota-Kota Dunia Naik 70%

Biaya pengolahan sampah dunia akan terus naik seiring dengan meningkatnya jumlah sampah padat di perkotaan. Hal ini terungkap dari laporan terbaru berjudul “What a Waste: A Global Review of Solid Waste Management” yang diterbitkan oleh Bank Dunia, Rabu (6/6). Laporan ini meneliti masalah sampah perkotaan di seluruh dunia.

Dalam laporan ini terungkap, jumlah sampah padat di kota-kota dunia akan terus naik sebesar 70% tahun ini hingga tahun 2025, dari 1,3 miliar ton per tahun menjadi 2,2 miliar ton per tahun. Mayoritas kenaikan terjadi di kota-kota di negara berkembang.

Di Indonesia, data Bank Dunia menyebutkan, produksi sampah padat secara nasional mencapai 151.921 ton per hari. Hal ini berarti, setiap penduduk Indonesia membuang sampah padat rata-rata 0,85 kg per hari. Data yang sama juga menyebutkan, dari total sampah yang dihasilkan secara nasional, hanya 80% yang berhasil dikumpulkan. Sisanya terbuang mencemari lingkungan.

Khusus di DKI Jakarta, menurut laporan Bank Dunia, jumlah sampah di Ibu Kota mencapai 7.896 ton per hari. Setiap penduduk Jakarta, rata-rata membuang sampah padat sebesar 0,88 kg per hari.

Dari jumlah tersebut, hanya 83% sampah yang berhasil dikumpulkan, sisanya terbuang mencemari lingkungan. Biaya tahunan untuk mengelola sampah dunia diperkirakan naik dari US$205 miliar per tahun menjadi US$375 miliar per tahun, dengan kenaikan terbesar terjadi di negara berpendapatan rendah.

Laporan Bank Dunia ini adalah laporan pertama yang membahas masalah sampah secara terpadu, mulai dari asal-usul sampah, pengumpulan, pengolahan hingga pembuangannya, lalu mengelompokkannya per wilayah dan negara.

Selesainya laporan ini adalah sebuah prestasi tersendiri karena selama ini, data sampah perkotaan yang bisa dipercaya tidak tersedia, tidak lengkap, tidak konsisten dan tidak bisa dibandingkan. Para penyusun laporan ini menyatakan, pertambahan jumlah sampah terjadi seiring dengan naiknya standar hidup dan populasi di perkotaan.

Pertumbuhan sampah perkotaan terbesar akan terjadi di China yang mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai penghasil sampah terbesar di dunia pada 2004. Jumlah sampah padat perkotaan di negara-negara Asia Timur, Eropa Tengah dan Timur Tengah juga terus meningkat.

Pertumbuhan jumlah sampah padat di perkotaan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau PDB. Menurut Bank Dunia, ada keterkaitan langsung antara pendapatan per kapita penduduk perkotaan dengan jumlah sampah yang mereka hasilkan.

Secara umum, peningkatan urbanisasi dan pendapatan masyarakat akan memicu konsumsi material-material sintetis (inorganic materials) seperti plastik, kertas, gelas dan alumunium sementara konsumsi bahan-bahan organik menurun.

Diperlukan tata kelola sampah padat yang terintegrasi untuk mengatasi masalah ini. Laporan ini juga memberikan rekomendasi cara mengurangi gas rumah kaca yang berasal dari praktik tata kelola sampah padat yang tidak efisien.

Rekomendasi-rekomendasi tersebut meliputi:

  • Memberikan edukasi ke masyarakat mengenai cara mengurangi sampah, mengolah dan mendaur ulang sampah;
  • Melakukan pendekatan biaya (pricing mechanisms) seperti dengan tidak memberikan kantong plastik secara percuma yang akan memicu inisiatif konsumen untuk mengurangi sampah dan mendaur ulang;
  • Mengenakan biaya ke masyarakat sesuai dengan jumlah sampah yang mereka hasilkan. Sehingga mereka yang sudah memilah sampah, akan menanggung biaya sampah yang lebih murah dibanding mereka yang tidak melakukannya;
  • Yang terakhir menciptakan kebijakan guna memromosikan dan menggalakkan pemakaian produk dengan bahan daur ulang.

Sampah, saat ini menyumbang hampir 5% gas rumah kaca global. Gas metana yang dihasilkan dari tempat pembuangan sampah jumlahnya mencapai 12% dari total emisi gas metana global. Gas metana adalah gas rumah kaca yang jauh berbahaya bagi iklim dibanding CO2. Mengatasi masalah sampah tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, namun juga bagi iklim dan kesehatan.

Redaksi Hijauku.com

Bookmark and Share

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,



Related Posts

But what if we can save a forest - YouTube
Cara Mudah Menyelamatkan Hutan
Electric train at Zurich Station - Matthew Black
Sistem Transportasi Hijau Hemat $70 Triliun
City buildings at night - Emilio Labrador @ Flickr
Mengurangi Polusi dalam Gedung di Perkotaan
Walney Offshore Windfarm - Geograph.org.uk - Wikipedia
Energi Terbarukan Kembali Bangkit
Logo Kota Yogyakarta
Peta Hijauku – Kota Yogyakarta
Red flower - Rezzan Atakol
Pemanasan Global Hilangkan Spesies Bumi


D'Arcy Norman @ Flickr
Sampah Padat di Kota-Kota Dunia Naik 70%

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Google PlusVisit Us On Youtube