Wilayah Arktika Tercemar Bahan Beracun

Para ilmuwan lingkungan dari Universitas Harvard menemukan akumulasi bahan merkuri (air raksa) beracun di wilayah Arktika (Kutub Utara).

Pencemaran ini berasal dari dua sumber yaitu dari atmosfer dan aliran sungai yang membawa elemen tersebut ke Samudera Arktika. Hal ini terungkap dalam siaran pers Universitas Harvard yang diterbitkan kemarin (21/5).

Peran atmosfer dalam pencemaran merkuri sudah terlebih dahulu diketahui, namun kini ditemukan sumber pencemaran merkuri dari sungai yang jumlahnya diperkirakan dua kali lebih besar.

Penemuan ini juga mengungkapkan, pemanasan global akan meningkatkan pencemaran merkuri di Arktika dengan cara memengaruhi siklus air dan melepaskan merkuri dari tanah Arktika yang menghangat.

“Kasus pencemaran merkuri di Arktika adalah unik. Walau wilayah ini jauh dari manusia namun konsentrasi pencemaran merkuri pada mamalia laut di Arktika adalah yang tertinggi di dunia,” ujar Jenny A. Fisher, yang memimpin penelitian ini. “Kondisi ini berbahaya baik bagi manusia maupun bagi hewan laut. Pertanyaan ilmiah yang harus dijawab adalah, dari mana pencemaran merkuri ini berasal?”

Hasil penelitian yang dilakukan atas kerja sama Harvard School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) dan Harvard School of Public Health (HSPH), ini telah diterbitkan dalan jurnal Nature Geoscience tanggal 20 Mei lalu.

Merkuri adalah bahan alami yang jumlahnya terus bertambah di lingkungan akibat ulah manusia yang membakar batu bara dan melakukan aktivitas pertambangan.

Di laut, dengan bantuan mikroba, merkuri akan berubah menjadi “methylmercury”. Bahan ini bisa mengendap dalam tubuh ikan dan hewan liar dengan jumlah yang jutaan kali lebih tinggi dari jumlah yang ditemukan di alam.

“Bagi manusia merkuri sangat berbahaya, bahan ini bisa merusak saraf,” jelas Elsie M. Sunderland, Mark dan Catherine Winkler dari HSPH. “Merkuri bisa memerlambat pertumbuhan anak dan memicu penyakit kardiovascular pada orang dewasa.”

Merkuri juga termasuk bahan beracun yang sulit untuk terurai sehingga bahan ini bisa berpindah dari plankton ke ikan lalu ke mamalia laut dan akhirnya ke manusia. Jumlah endapan ini terus bertambah dan semakin berbahaya.

Merkuri mencemari atmosfer melalui asap hasil pembakaran batu bara. Merkuri bisa melayang di udara hingga satu tahun hingga reaksi kimia membuatnya lebih berat dan jatuh kembali ke bumi dengan bantuan hujan dan salju. Merkuri kemudian tersebar ke seluruh dunia dan sebagian besar tersimpan dalam salju dan es di Arktika.

“Mencegah pencemaran merkuri dari sungai sangat penting karena, merkuri bisa langsung mengalir ke laut,” ujar Fisher. Sungai-sungai penting yang mengalir langsung ke Samudera Arktika terletak di Siberia: yaitu Sungai Lena, Sungai Ob, dan Sungai Yenisei. Ketiga sungai ini masuk dalam 10 sungai terbesar di dunia.

Ketiganya menyumbang 10% aliran air tawar ke samudera-samudera dunia. Samudera Atlantik adalah samudera yang dangkal dan sangat bergantung pada pasokan air dari sungai-sungai ini. Sehingga pencemaran merkuri dari sungai akan sangat berbahaya bagi manusia, hewan dan lingkungan di Arktika.

Redaksi Hijauku.com

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,



Related Posts

International Energy Efficiency Scorecard - ACEEE
Peringkat Efisiensi Energi Dunia
Christiana Figueres, UNFCCC - UN Climate Change
Perundingan Iklim Kembali Dimulai
Rice field in Bali - Eric Bezine @ Fotopedia
Beralih ke Sistem Pertanian Berkelanjutan
Slider - Paul Nick
Kesehatan Lautan Terus Menurun
Howler monkeys in the wild - Thelmadatter
Melestarikan Hutan Cegah Wabah Malaria
Mirrors for solar power plant - Langalex @ Flickr
Energi Terbarukan Semakin Murah