Berbagai kajian telah membuktikan, kebijakan dan investasi di energi bersih mampu memberikan keunggulan kompetitif di bidang ekonomi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru.
Menurut Priya Barua, Peneliti dari World Resources Institute, laporan dan studi independen mengenai tren energi bersih menyebutkan, sektor energi terbarukan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru – per megawatt tenaga yang dihasilkan dan setiap dollar investasi yang dikeluarkan – jika dibandingkan dengan sektor berbahan bakar fosil.
Bukti ini semakin dikuatkan oleh sejumlah temuan baru dari Program Lingkungan PBB (UNEP), Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan berbagai penelitian dari negara-negara Eropa, Australia, Kanada dan Amerika Serikat.
Semua temuan ini merupakan hasil riset domestik dan internasional, hasil wawancara dengan sejumlah eksekutif di industri rendah karbon dan hasil kajian dari data jumlah lapangan kerja domestik yang tercipta karena kebijakan-kebijakan agresif di bidang energi bersih guna menangkal perubahan iklim di negara-negara lain.
Walaupun lapangan kerja “bersih” dan “hijau” memiliki banyak definisi dan metodologi, hasil inti penemuan ini menunjukkan, manfaat transisi ke ekonomi rendah karbon sangat besar.
Upaya menciptakan lapangan kerja baru saat ini banyak yang berfokus pada level nasional sesuai dengan target dan kebijakan setiap negara.
Belajar dari kasus di Amerika Serikat, berikut adalah rincian lima manfaat transisi ke energi bersih dan ramah lingkungan:
1. Investasi di energi bersih menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Sektor energi bersih menciptakan lebih banyak lapangan kerja dalam setiap investasinya dibanding dengan investasi di industri berbahan bakar fossil.
Hal ini terjadi terutama ketika seluruh rantai di industri energi bersih dipertimbangkan. Bukti di sejumlah sektor energi bersih – misal di sektor panel surya – menunjukkan, potensi lapangan kerja baru muncul dari bidang penelitian, pengembangan proyek, pemasangan atau instalasi dan pengoperasian serta perawatan panel surya yang sudah terpasang.
Walaupun ada beberapa komponen panel surya yang diimpor, sektor ini masih membuka banyak lapangan kerja lokal.
2. Terciptanya lapangan kerja baru terkait dengan meningkatnya ekspor dan proses manufaktur.
Menurut penelitian Brookings Institution dan Battelle yang dilakukan tahun ini, sekitar 26% lapangan kerja “bersih” di AS berasal dari sektor manufaktur. Hanya 9% yang berasal dari sektor lain.
Ekspor yang dihasilkan oleh lapangan kerja “bersih” ini dua kali lipat lebih banyak dari lapangan kerja biasa.
Temuan ini sangat signifikan karena sektor manufaktur di AS adalah sektor yang paling parah dihantam krisis. Meningkatnya ekspor juga berkontribusi positif pada neraca perdagangan, terutama karena lebih dari 85% pasar teknologi energi bersih dunia berada di luar AS.
3. Investasi energi bersih menyediakan lapangan kerja bagi mereka yang kurang atau sedikit memiliki keahlian, sehingga lapangan kerja di sektor energi bersih bisa diisi oleh mereka yang memang membutuhkannya.
Penelitian dari Brookings dan Battelle di atas juga menemukan bahwa upah rata-rata di industri “bersih” lebih tinggi dibanding sektor konvensional. Porsi pekerja yang tidak memiliki pendidikan formal juga lebih banyak.
4. Dalam ekonomi “hijau”, segmen dan investasi terkait “teknologi bersih” berpeluang menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Walau sebagian besar lapangan kerja “hijau” berasal dari sektor-sektor yang sudah mapan – seperti sektor konstruksi dan sektor yang terkait dengan bangunan yang paling menderita saat terjadi krisis real estate – namun pertumbuhan lapangan kerja paling cepat di ekonomi “hijau” berasal dari sektor energi bersih atau sektor “rendah karbon”.
Sektor seperti energi angin, panel surya dan jaringan listrik pintar (smart grids) ini telah membantu ekonomi “hijau” tumbuh lebih tinggi saat krisis setelah tertinggal pada periode 2003 hingga 2010.
5. Industri energi bersih berpeluang menjadi salah satu industri terbesar pada 2020. Penelitian HSBC dan WWF meramalkan, pasar energi rendah karbon akan bernilai antara US$1,5 trilliun hingga US$2,3 trilliun pada 2020.
Semua itu tergantung pada dukungan kebijakan dari pemerintah. Lembaga riset Pew melaporkan, potensi investasi di tenaga bersih diperkirakan mencapai US$2,3 trilliun dalam 10 tahun ke depan jika kebijakan energi bersih bisa semakin diberdayakan.
Negara-negara di seluruh dunia sudah memanfaatkan kesempatan ini untuk mendorong efisiensi energi dan pengembangan energi bersih.
Negara seperti Jerman, China dan Korea Selatan memimpin tren yang menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja baru ini.
Sementara AS mendapat kritik terbuka dari Divisi Manajemen Asset, Deutsche Bank karena Kongres AS gagal mengesahkan UU terkait perubahan iklim.
Kegagalan ini mempengaruhi iklim investasi. Kurang dari 1% investasi Deutsche Bank – yang bernilai US$6 hingga US$7 miliar – disalurkan di AS.
Terciptanya lapangan kerja baru hanyalah salah satu manfaat dari transisi ke ekonomi rendah karbon.
Kita harus ingat, alasan utama untuk melakukan transisi ini adalah untuk menghindari atau mengurangi membengkaknya biaya kesehatan masyarakat, kerusakan infrastruktur, kerusakan lingkungan dan industri pertanian yang akan terjadi bila emisi gas rumah kaca dan ancaman pemanasan global terus meningkat.
Keuntungan lain dari transisi ke ekonomi rendah karbon adalah tumbuhnya investasi di bidang inovasi baik dari dalam maupun luar negeri dan berkurangnya impor bahan bakar fossil.
Redaksi Hijauku.com
Ya, energi terbarukan yang lebih bersih daripada energi fossil menjadi impian banyak industri dan lembaga.
Namun argumen yang berkembang saat ini, menemukan setidaknya ada tiga masalah utama dalam utilisasi energi terbarukan yang bersih. Ketiganya yaitu:
1. Kebersaingan dengan kebutuhan pangan masyarkat dunia yang terus meningkat. Banyak energi terbarukan berasal dari tanaman yang juga merupakan bahan pokok untuk mencukupi kebutuhan manusia (jagung, singkong, sawit, dsb). Bagaimana memastikan bahwa peningkatan penggunaan energi terbarukan tidak mengurangi porsi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat? Bagaimana memastikan sustainabilitas produskinya mengingat produk pertanian sangat tergantung cuaca dan iklim? Lalu seluas apa hektaran lahan yang dibutuhkan untuk mencukupi produksi yang diinginkan?Apakah ini pada gilirannya akan bertentangan juga dengan kebutuhan lahan pemukiman penduduk dunia yang juga bertambah?
2. Masalah daya/kekuatan dari sumber energi yang terbarukan dengan energi fosil. Apakah sumber energi dari bahan yang terbarukan mampu menggantikan energi yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil? Baik untuk energi manufaktur maupun energi kendaraan bermotor? Sampai saat ini tampaknya belum ada sumber enerbi terbarukan yang bisa mengganti kekuatan energi dari sumber fosil.
3. Masalah proses produksi energi terbarukan. Pihak yang mengkritik mengatakan bahwa untuk memproses jagung atau singkong menjadi etanol misalnya, juga dibutuhkan pabrik pengolahan yang berbahan bakui fosil. Lalu kemudian menurut mereka, jadi sami mawon, karena tetap menggunakan bahan baku fosil.
Itulah tiga tantangan utama yang membutuhkan solusi dewi terwujudnya bumi yang lebih hijau pada masa mendatang.
Setuju mas Saiful, he..he..ini alumni Wegeningen yang bicara, sebenarnya banyak aspek dari energi terbarukan ini, tidak hanya dari sisi biofuel. Tren di dunia malah panel surya yang pesat berkembang. Di Indonesia kita masih punya banyak alternatif, seperti energi angin, energi pasang surut air laut atau energi gelombang air laut, energi panas bumi, selain energi surya itu sendiri. Energi surya cocok terutama untuk daerah terpencil dimana kebutuhan energi masyarakat tidak terlalu besar dan lokasi mereka belum terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Yang dibutuhkan adalah komitmen yang kuat dari pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi ini yang akan membawa ke kemandirian ekonomi.