Kegagalan para pemimpin dunia untuk mengurangi polusi lingkungan dan efek gas rumah kaca dalam pertemuan Cancun sudah diramalkan. Namun hal itu tidak akan menghentikan aksi memerangi pemanasan global di seluruh dunia.
Berikut 10 tren pemicu aksi perang melawan pemanasan global hasil analisis Environmental Leader yang dilayak untuk diamati:
Perubahan cuaca semakin ekstrim: Gelombang panas, kebakaran, badai dan banjir terjadi di seluruh dunia. Cuaca yang semakin panas dan basah mengancam lingkungan dan masyarakat. Setiap kali bencana “alam” menerpa, penduduk seakan diingatkan atas hubungan antara pemanasan global terhadap alam dan manusia dengan cara yang menyakitkan.
Krisis pangan mengancam stabilitas keamanan: Setiap hari lebih dari satu miliar manusia di dunia mengalami kelaparan. Pemanasan global semakin mengancam keamanan pangan. Akademi Ilmu Pengetahuan AS (US Academy of Sciences) melaporkan setiap peningkatan suhu 1 derajat, hasil panen akan berkurang 10%, sehingga mustahil meningkatkan produksi pangan tanpa memperhitungkan faktor perubahan iklim. Lester Brown, peneliti dari Earth Policy Institute menyatakan, krisis pangan bisa memicu krisis politik atau krisis nasional yang berujung pada ancaman keamanan dunia.
Perang memperebutkan sumber daya air semakin sengit: Krisis air memiliki efek yang lebih berbahaya dibanding krisis pangan. Saat ini manusia masih mengeksploitasi air tanah pada saat yang sama mereka juga mencemari air laut dengan tumpahan minyak , limbah pertanian dan lautan sampah plastik, sehingga sumber air tanah mengering dan sumber makanan laut pun musnah. Polusi udara meningkatkan keasaman samudera (ocean acidity), mengancam seluruh rantai makanan di laut; sementara kekeringan parah mengancam tanaman pangan di darat. Sejumlah organisasi bisnis terkemuka dan lembaga militer kini mengatagorisasikan ancaman terhadap pasokan air setara dengan ancaman atas pasokan minyak. Krisis air bisa memicu perang pada masa datang jika tidak diatasi segera.
Bahan bakar fosil semakin menipis: Badan Energi Internasional (International Energy Agency) tahun ini akhirnya mengakui bahwa industri minyak dunia sudah melampaui masa puncaknya. Mereka juga mengakui bahwa pencabutan subsidi bisa membantu meningkatkan perekonomian pada saat yang sama mengurangi polusi udara. Pasar karbon dunia (Global carbon market) dipandang sebagai mekanisme yang paling masuk akal untuk memicu peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan – keberhasilan mekanisme ini tinggal menunggu waktu.
Negara berkembang (developing nation) semakin digdaya: Raksasa seperti BRIC (Brazil, Russia, India, China) mulai bangkit – bersama dengan ratusan negara-negara yang lebih kecil lain. Mereka meyakini bahwa negara maju adalah pihak yang seharusnya memikul tanggung jawab atas pemanasan global. Namun di dunia yang multipolar, pemanasan global kini sudah menjadi tantangan bersama yang memicu dialog politik antar negara.
Menyelamatkan hutan, menjadikannya sebagai aset dunia: Hutan adalah jantung dunia dan aset yang tidak tergantikan. Kerusakan hutan akan memicu kerusakan ekosistem. Mencegah kerusakan hutan sejak dini adalah langkah terbaik untuk mencegah perubahan iklim dan pemanasan global. Tidak ada skema lingkungan yang lebih efektif untuk mengembalikan keseimbangan iklim secepat dan sebaik menjaga dan mengembalikan kelestarian hutan.
Manfaat perekonomian bebas karbon: Manfaat dari sistem perekonomian hijau dan bebas karbon bagi kehidupan semakin nyata. Bangunan hijau, mobil ramah lingkungan, kota yang lebih sehat dan bersih hanyalah sebagian kecil dari efek positif perekonomian hijau. Semua praktik hijau itu akan meningkatkan permintaan atas energi bersih dan terbarukan, yang akan memotong lingkaran setan ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil yang memicu polusi dan pemanasan global.
Keterlibatan organisasi keagamaan memicu aksi menentang pemanasan global: Semua agama dan aliran kepercayaan sepakat bahwa mereka mempunyai kewajiban moral untuk memerangi pemanasan global. Mereka yakin rakyat miskin akan menjadi menjadi pihak yang paling menderita karena perubahan iklim. Dalam dokumen WikiLeaks terbaru, Dalai Lama menyebut perubahan iklim – bukan China – sebagai ancaman besar bagi Tibet. Efek negatif kerusakan lingkungan bagi kemanusiaan akan memicu keprihatinan organisasi keagamaan yang bisa mempercepat perubahan politik.
Kaum muda juga tidak mau ketinggalan. Kaum muda sudah sejak lama menjadi motor aksi melawan perubahan iklim karena mereka sadar mereka tidak sudi mewarisi bumi yang rusak dari generasi sebelumnya . Mereka tidak puas dengan kemandulan politis generasi tua dalam mengatasi pemanasan global. Organisasi seperti 350.org menggelar kampanye internasional dengan kaum muda sebagai motornya dengan target para pemimpin politik. Jumlah kaum muda yang menjadi aktifis lingkungan semakin banyak saat mereka merasakan efek negatif perubahan iklim pada lingkungan.
Perubahan terjadi semakin cepat: Aksi nyata melawan pemanasan global kini tengah terjadi di seluruh dunia. Dalam bukunya yang berjudul “Blessed Unrest”, Paul Hawken bercerita tentang beribu organisasi di dunia yang memperjuangkan kehidupan dan kesehatan dengan berbagai cara. Mereka bisa menjadi layaknya sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh manusia, yang memicu perubahan dan aksi hingga ke tataran politik. ICLEI, organisasi yang beranggotakan pemerintah daerah yang peduli terhadap lingkungan, kini memiliki lebih dari 1200 anggota yang mewakili hampir setengah miliar penduduk . Sebelum pertemuan Cancun, walikota dari 135 kota besar di dunia mulai dari Paris hingga Buenos Aires menandatangani kesepakatan untuk melaporkan dan mengurangi polusi udara. California – sebagai kota dengan perekonomian terbesar ke-8 di dunia – baru saja menerapkan mekanisme perdagangan karbon terbesar di AS. Keterlibatan pasar lokal dan dunia, komitmen serta investasi ramah lingkungan kini tinggal menungggu waktu saja.
Semua faktor-faktor di atas adalah pemicu aksi melawan perubahan iklim tidak peduli apakah para pemimpin politik menyetujuinya atau tidak . Namun sayang, perubahan sosial seringkali membutuhkan pengorbanan besar. Perang dan demonstrasi memakan korban. Tantangan terbesar bagi kita adalah mewujudkan perubahan secepat mungkin sebelum penduduk semakin menderita akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menjadi semakin parah.
Krisis pemanasan global dan perubahan iklim menciptakan tiga peluang perubahan penting di bawah ini:
– Peluang untuk melakukan reformasi sistemik sebagai wujud dari kewajiban moral membantu mereka yang menderita dan tertindas.
– Peluang untuk berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan terbaik demi masa depan yang hijau dan cerah.
– Peluang untuk menciptakan komitmen politik yang bisa memperkuat perdamaian dunia.
Jika kita bisa mewujudkan paling tidak satu diantara ketiga peluang penting tersebut, kita telah berhasil melakukan perubahan besar.
Redaksi Hijauku.com










